Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Toto Izul Fatah: Jika Saya Jaksa Agung, Saya Ucapkan Terima Kasih kepada Polri yang Bersihkan Kejaksaan

Views
×

Toto Izul Fatah: Jika Saya Jaksa Agung, Saya Ucapkan Terima Kasih kepada Polri yang Bersihkan Kejaksaan

Sebarkan artikel ini
St Burahnuddin Dan Kapolri Sigit
Jaksa Agung ST Burhanuddin bersama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

KOMA.ID, JAKARTA – Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai penggeledahan yang dilakukan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Polri dalam perkara dugaan korupsi yang dikaitkan dengan sejumlah lokasi yang disebut berhubungan dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah semestinya disikapi secara terbuka oleh institusi Kejaksaan Agung.

Melalui tulisan berjudul Seandainya Saya Jaksa Agung yang dikirim kepada wartawan pada hari Kamis, 9 Juli 2026, Toto mengaku akan memilih mendukung penuh proses hukum apabila berada di posisi Jaksa Agung, alih-alih memberikan bantahan atau menunjukkan sikap defensif terhadap langkah penyidik.

Silakan gulirkan ke bawah

“…terima kasih kepada Polri, karena telah membantu Kejaksaan Agung membersihkan rumahku sendiri. Terima kasih juga kepada Polri karena telah ikut membuka kemungkinan adanya penyimpangan yang mungkin sulit terbongkar jika hanya mengandalkan orang dalam,” tulis Toto.

Menurutnya, apabila nantinya ditemukan bukti adanya keterlibatan pejabat Kejaksaan Agung dalam tindak pidana, maka proses hukum harus berjalan tanpa pengecualian. Ia menegaskan loyalitas terhadap institusi tidak boleh berubah menjadi alasan untuk melindungi pelanggaran hukum.

“Kalau benar ada petinggi Kejaksaan Agung yang terlibat dalam dugaan pelanggaran hukum, maka harus diproses. Tidak boleh ada perlindungan. Tidak boleh ada pembelaan membabi buta. Tidak boleh ada solidaritas korps yang menutup mata terhadap kejahatan. Aparat hukum yang melanggar hukum adalah pengkhianatan ganda. Mengkhianati negara dan kepercayaan rakyat,” tegasnya.

Toto juga berpandangan bahwa kasus tersebut justru dapat menjadi momentum memperkuat integritas Kejaksaan Agung, bukan sebaliknya melemahkan institusi penegak hukum tersebut.

“Kasus ini bukan pukulan yang melemahkan Kejaksaan Agung. Justru ini kayu bakar yang akan membuat api penegakan hukum semakin menyala,” katanya.

Ia menilai Kejaksaan Agung akan memperoleh kepercayaan publik apabila berani melakukan pembenahan dari dalam. Menurutnya, keberanian membersihkan institusi sendiri merupakan syarat penting bagi lembaga penegak hukum yang ingin menjaga kredibilitasnya.

“Ini momentum untuk membuktikan bahwa Kejaksaan Agung bukan institusi yang takut dibersihkan. Kejaksaan Agung harus berani membersihkan orang lain, tetapi juga harus lebih berani membersihkan dirinya sendiri,” ujarnya.

Lebih jauh, Toto berharap semangat pemberantasan korupsi tidak berhenti pada satu perkara saja. Ia mendorong seluruh dugaan korupsi, baik di lingkungan BUMN, kementerian, aparat penegak hukum, maupun kalangan elite politik, diproses berdasarkan alat bukti tanpa perlakuan istimewa.

“Kalau ada kasus besar di BUMN, bongkar. Kalau ada korupsi di kementerian, bongkar. Kalau ada mafia hukum, bongkar. Begitu juga kalau ada jaringan korupsi yang melibatkan pengusaha besar dan elite politik, bongkar. Dan jika suatu saat ditemukan indikasi korupsi yang melibatkan petinggi Polri, kejaksaan, atau institusi mana pun, proses juga secara hukum tanpa pandang bulu,” katanya.

Dalam tulisannya, Toto turut mengingatkan agar perkara tersebut tidak berkembang menjadi konflik antarlembaga penegak hukum. Ia menekankan seluruh proses harus berjalan semata-mata berdasarkan ketentuan hukum.

“Ini murni penegakan hukum. Kalau alat buktinya cukup, proses. Kalau tidak cukup, jangan dipaksakan. Semua harus berjalan berdasarkan hukum, bukan berdasarkan emosi, gengsi, atau tekanan politik,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa publik akan kehilangan kepercayaan apabila proses hukum berubah menjadi ajang saling membalas antarinstitusi.

“Justru, kalau Kejaksaan Agung membalas dengan cara yang sama secara membabi buta, maka publik akan melihat ini sebagai perang terbuka antar-institusi. Itu berbahaya. Negara tidak boleh dibiarkan menjadi arena saling sandera dan senjata menekan lawan,” tulisnya.

Di akhir pernyataannya, Toto mengajak seluruh jajaran Kejaksaan Agung tidak takut terhadap proses hukum apabila memang tidak melakukan pelanggaran.

“Kalau kita bersih, kita tidak perlu takut dibersihkan. Kalau ada yang kotor, biarkan ia disapu. Institusi tidak boleh runtuh hanya karena satu atau dua orang di dalamnya diduga bermasalah. Justru institusi akan semakin kuat jika berani membuang bagian yang busuk dari tubuhnya sendiri,” pungkasnya.

Ia juga menyatakan dukungannya terhadap komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam agenda pemberantasan korupsi. Menurut Toto, penegakan hukum akan semakin dipercaya apabila seluruh institusi negara berani membersihkan diri dan tidak saling melindungi pihak yang diduga melakukan penyimpangan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.