Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Haidar Alwi: Demo Mahasiswa Soal Pertamax Harus Jadi Momentum Bahas Ketahanan Energi Nasional

Views
×

Haidar Alwi: Demo Mahasiswa Soal Pertamax Harus Jadi Momentum Bahas Ketahanan Energi Nasional

Sebarkan artikel ini
Haidar Alwi - KOMA
Pendiri Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi.

KOMA.ID, JAKARTA – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi, menilai demonstrasi mahasiswa terkait kenaikan harga Pertamax dan kritik terhadap sejumlah program pemerintah seharusnya menjadi momentum untuk membahas persoalan yang lebih mendasar, yakni ketahanan energi dan arah pembangunan nasional.

“Bangsa yang besar tidak boleh terjebak hanya pada perdebatan tentang berapa rupiah harga energi hari ini. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap rupiah yang dibelanjakan negara mampu memperkuat ketahanan ekonomi, meningkatkan kualitas manusianya, dan membangun kemandirian bangsa untuk puluhan tahun ke depan,” kata Haidar Alwi dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Menurutnya, mahasiswa memiliki hak untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk kenaikan harga BBM dan penggunaan APBN. Namun, diskusi publik tidak boleh berhenti pada persoalan harga energi semata.

Ia menjelaskan bahwa APBN merupakan instrumen strategis negara untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membiayai pembangunan sumber daya manusia, infrastruktur, dan peningkatan produktivitas nasional.

“Negara tidak dibangun oleh anggaran yang kecil atau besar. Negara dibangun oleh kemampuan mengubah anggaran menjadi produktivitas, inovasi, kualitas manusia, dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Haidar menilai perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) perlu ditempatkan sebagai bagian dari investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar dilihat dari besaran anggarannya.

Menurutnya, program MBG berpotensi meningkatkan kualitas gizi generasi muda sekaligus menggerakkan sektor pertanian, peternakan, UMKM, dan rantai pasok pangan nasional. Sementara Kopdes dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat desa.

“Bangsa yang hanya sibuk memperdebatkan biaya sering lupa menghitung nilai investasi. Padahal sejarah membuktikan bahwa negara maju lahir dari keberanian membiayai manusia, ilmu pengetahuan, produktivitas, dan masa depan jauh sebelum hasilnya terlihat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Haidar menyoroti persoalan ketergantungan Indonesia terhadap impor migas yang masih menjadi salah satu penyebab kerentanan ekonomi nasional ketika terjadi gejolak harga energi dunia.

Menurutnya, setiap kenaikan harga minyak global tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memengaruhi inflasi, nilai tukar rupiah, subsidi energi, hingga ruang fiskal pemerintah.

Karena itu, ia menilai pembangunan kilang, hilirisasi industri, diversifikasi energi, dan pengurangan ketergantungan impor harus menjadi agenda strategis nasional.

“Saya menghormati mahasiswa yang mengingatkan negara agar tidak lalai mengelola APBN. Namun Indonesia juga harus berani membahas akar persoalannya. Pertanyaan yang lebih besar bukan mengapa Pertamax naik, melainkan mengapa setiap kali harga energi dunia bergejolak kita selalu ikut terguncang,” tegasnya.

Haidar menambahkan bahwa yang dipertaruhkan saat ini bukan hanya harga energi, melainkan kemampuan Indonesia membangun ketahanan energi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mewujudkan kemandirian ekonomi dalam jangka panjang.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.