Koma.id – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menilai pernyataan Saiful Mujani terkait wacana menjatuhkan Presiden Prabowo tidak perlu ditanggapi secara serius oleh pemerintah.
Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan cara bertutur dan tata bahasa yang kurang terukur dari Mujani.
“Biar aja, cara bertutur dan tata bahasa Sjaiful Muzani memang kurang terukur. Mudah dianggap provokatif,” kata Jimly, dikutip Minggu (12/4/2026).
Pakar hukum tata negara ini lalu mengkritik substansi pernyataan Mujani yang dinilai tidak sejalan dengan konstitusi.
Menurutnya, pergantian presiden telah diatur dalam konstitusi melalui mekanisme impeachment.
“Dia tidak percaya pada mekanisme yang sudah diatur di konstitusi, yaitu impeachment, tapi malah mengimpikan melalui people’s power. Biar saja jadi pelajaran bagi Syaiful,” katanya.
Ia mengatakan pernyataan Mujani itu juga tidak akan berpengaruh, sebab suara yang menentang juga berimbang.
“Presiden dan timnya juga tidak perlu tanggapi terlalu serius, santai aja karena tidak akan berpengaruh. Malah suara rasional yang menolaknya juga berimbang. Pemerintah tidak perlu respons terlalu serius, biar tidak semakin memperluas ketegangan antara negara vs society,” katanya.
Di sisi lain, Jimly juga mengingatkan pemerintah untuk tidak bersikap angkuh dalam merespons perasaan yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, jika pemerintah bersikap menantang, kemarahan di masyarakat akan semakin meluas.
“Perlu komunikasi yang lebih lembut dari presiden sendiri. Kurangilah pidato yang meledak-ledak tapi tidak terukur. Belajarlah dari manajemen kepemimpinan Pak Harto yang lebih lembut dengan tutur bahasa yang terukur,” katanya.













