KOMA.ID, JAKARTA – Mantan Menko Polhukam di Kabinet Indonesia Maju, Prof Mahfud MD menyampaikan, bahwa Idulfitri adalah momentum yang baik untuk semakin menyucikan diri pasca 1 bulan melaksanakan ibadah puasa Ramadan.
“Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada kesucian (fitrah) setelah satu bulan menjalani ibadah puasa,” kata Mahfud MD dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/3/2026).
Bahkan Mahfud MD pun menukil sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah Sallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa setiap manusia sejatinya dilahirkan dalam keadaan yang bersih, suci, tanpa noda dosa secuil pun.
“Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa “kullu maulūdin yūladu ‘alal fitrah”, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah itu adalah potensi untuk hidup lurus (hanif), sebagaimana perintah Allah agar manusia menegakkan kehidupan dalam jalan yang lurus,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Mahfud MD yang juga pakar hukum tata negara dari Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja tersebut menerangkan, bahwa fitrah sejatinya tidak sekadar berada dalam ruang lingkup pribadi manusia masing-masing, akan tetapi bisa dimaknai dalam konsep berbangsa dan bernegara.
Cak Imin Ajak Polri, Menag hingga Pemda Gercep Tindak Kekerasan Seksual di Pesantren : Mangkel Aku!
Bagaimana seseorang individu di dalam komunitas kenegaraan mampu menjadi bagian penting untuk merawat kebaikan untuk kemaslahatan yang lebih luas. Tidak hanya bagi entitas bangsa dalam ruang rakyat, akan tetapi juga dalam entitas bangsa dalam ruang penyelenggara negara atau penguasa administratif.
“Nilai kefitrahan ini tidak hanya berlaku bagi pribadi, tetapi juga bagi kehidupan berbangsa. Indonesia berdiri atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, sehingga kefitrahan negara harus dijaga dengan perilaku lurus dan amanah oleh para penyelenggara negara,” tuturnya.
Lebih lanjut, alumni Pondok Pesantren Al-Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura tersebut menekankan bahwa prinsip-prinsip Maqasid al-Syariah—hifd ad-din, hifd an-nafs, hifd al-‘aql, hifd al-mal, dan hifd an-nasab—dapat menjadi orientasi dalam mengelola kehidupan bersama agar keadilan, kemaslahatan, dan kemanusiaan tetap terjaga.
Oleh sebab itu, ia sangat berharap di momentum Lebaran 2026 ini, bisa menjadi refleksi bersama bagi semua entitas bangsa Indonesia untuk kembali menuju kefitrahan yang sesungguhnya.
“Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali kepada fitrah diri, sekaligus menjaga fitrah negara agar tetap berada di jalan yang lurus, adil, dan membawa kebaikan bagi seluruh rakyat,” pungkas Mahfud MD.












