Koma.id – Dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) akhir Januari 2026 memicu kontroversi global. Arsip tersebut menunjukkan adanya pengiriman potongan kain Kiswah, penutup suci Ka’bah di Mekah, ke Jeffrey Epstein, mendiang terpidana kasus kejahatan seksual.
Kiswah, kain sutra hitam berhias ayat Al-Quran dengan sulaman emas dan perak, diganti setiap tahun dalam upacara pergantian Tahun Baru Islam. Setelah dilepas, kain lama biasanya dipotong dan diberikan secara terbatas, umumnya kepada kepala negara Muslim atau pejabat tinggi. Karena statusnya yang sangat dihormati, kabar pengiriman Kiswah ke Epstein memicu kemarahan umat Islam.
Email dari 2017 menunjukkan seseorang bernama “Aziza al-Ahmadi” mengatur pengiriman tiga potong kain yang diklaim sebagai Kiswah ke rumah Epstein. Paket tersebut tiba di Palm Beach, lalu dikirim ke St Thomas, dekat pulau pribadi Epstein, Little St James. Dalam formulir Bea Cukai AS, kiriman itu dicatat sebagai “lukisan, gambar, dan patung” senilai hampir Rp183 juta.
Salah satu email menyebut kain hitam itu “telah disentuh oleh minimal 10 juta Muslim dari berbagai denominasi.” Namun, keaslian potongan Kiswah tersebut masih dipertanyakan.
Foto yang beredar memperlihatkan Epstein bersama seorang pengusaha Arab memeriksa kain berornamen di lantai, diduga Kiswah. Banyak pengguna media sosial menyebut gambar itu “menyakitkan hati” karena kain suci diperlakukan tidak semestinya.
Sejarawan seni Islam Dr Simon O’Meara menegaskan, meski Kiswah tidak dianggap suci secara teologis, umat Islam sangat menghormatinya. “Setelah dilepas, Kiswah tidak boleh dinodai. Orang tidak boleh menginjaknya,” ujarnya.
Pemerintah Arab Saudi memiliki kendali penuh atas pembuatan dan distribusi Kiswah. Namun, tidak ada aturan resmi terkait siapa yang berhak menerima potongan kain lama. Penulis haji dan umrah Ahmed al-Halabi menekankan, potongan Kiswah tidak seharusnya diberikan kepada non-Muslim.

Dokumen DOJ juga menunjukkan Epstein berhubungan dengan sejumlah individu yang dikaitkan dengan lingkaran pejabat Saudi. Hal ini menimbulkan pertanyaan lebih jauh mengenai jaringan dan motif di balik pengiriman Kiswah.
Di dunia Muslim, seruan agar otoritas Saudi melakukan penyelidikan komprehensif semakin menguat. Publik menuntut kejelasan apakah potongan Kiswah yang dikirim ke Epstein benar-benar asli, siapa yang mengizinkan pengiriman tersebut, dan apa kaitannya dengan jaringan politik maupun bisnis internasional.








