Koma.id– Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM Universitas Gadjah Mada), Tiyo Ardianto, mengaku mengalami teror dan intimidasi setelah mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) terkait tragedi meninggalnya seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur yang diduga tidak mampu membeli alat tulis sekolah.
Meski demikian, Tiyo menegaskan bahwa intimidasi tidak akan menghentikan perjuangan mahasiswa dan masyarakat sipil dalam menolak kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai bermasalah.
Bahkan lanjut Tiyo, kritik mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah termasuk terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tidak seharusnya dipersepsikan sebagai ancaman. Pasalnya penyelenggara negara dipilih oleh rakyat dan karenanya wajib menerima kritik ketika kebijakan dinilai tidak berpihak pada kepentingan publik.
“Pasca 28.000 kasus keracunan di mana-mana justru kepala BGN kemarin diberikan penghargaan tanda jasa. Itu bagi kami adalah penghinaan yang luar biasa,” kata Tiyo saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
Terkait surat yang dikirimkan ke UNICEF, Tiyo mengungkapkan pihaknya justru mendapat respons dari seorang pensiunan pejabat UNICEF yang kemudian menghubungi BEM UGM dan memberikan akses komunikasi langsung kepada pimpinan direktur eksekutif UNICEF. Meski belum direspon ia meyakini petinggi UNICEF sudah membaca surat mereka.
“Tapi kami pastikan bahwa eksekutif direkturnya sudah baca karena yang kami kirim bukan lagi email lembaga tapi email pemimpinnya langsung,” tuturnya.
BEM UGM saat ini tengah membangun komunikasi dengan jaringan lintas gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil untuk mendorong eskalasi gerakan secara nasional. Yakni gerakan penolakan MBG dan tuntutan pengembalian anggaran Pendidikan yang dialihkan ke MBG.
“Siapapun boleh mengkritik MBG dan justru itulah yang kita harapkan,” tandasnya.







