Koma.id — Rencana adanya trem di Kota Bogor kembali digulirkan menjadi transportasi massal, ramah lingkungan, kota lebih tertib, dan wajah urban yang “naik kelas”. Masalahnya, setiap proyek transportasi modern di kota dengan struktur sosial rapuh selalu menyisakan satu pertanyaan besar. Siapa yang benar-benar diuntungkan dan siapa yang akan dikorbankan?
Kota Bogor tengah berada di ambang perubahan besar dalam sistem transportasi publiknya. Setelah wacana panjang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama PT Industri Kereta Api (INKA) berkomitmen untuk menghadirkan transportasi trem modern sebagai bagian dari program mobilitas perkotaan yang efisien dan berkelanjutan.
Artis hingga Anggota DPR Dukung Nadiem
Rencana ini bukan sekadar proyek moda transportasi baru, tetapi bagian dari transformasi besar terhadap cara warga bergerak di dalam kota — dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menuju penggunaan angkutan umum berbasis rel yang lebih nyaman, bersih, dan terintegrasi.
Dari Wacana hingga Uji Coba
Trem Bogor bukan ide baru — diskusi tentang penerapan trem di kota hujan ini sudah muncul sejak beberapa tahun lalu sebagai upaya mengurai kemacetan, terutama di pusat kota yang padat. Namun, kemajuan signifikan baru terjadi akhir-akhir ini ketika nota kesepahaman (MoU) antara Pemkot Bogor dan PT INKA resmi ditandatangani pada Desember 2025. Perjanjian ini menandai babak pembuktian nyata dari wacana yang sudah lama digaungkan.
Menurut rencana, trem akan dijuji coba mulai 2026 sebagai bagian dari program Bogor Lancar — nama langkah strategis kota untuk menciptakan sistem transportasi yang efektif dan modern.
Titik Rute dan Teknologi
Kesiapan rute trem semakin jelas dengan rencana lintasan awal sepanjang sekitar 2,2 kilometer yang melintasi tempat-tempat strategis seperti Alun-alun Bogor, Jalan Pajajaran, Tugu Kujang, dan kawasan Sempur.
Uniknya, trem Bogor akan menggunakan teknologi baterai modern, sehingga tidak memerlukan kabel atas seperti trem klasik di masa lalu. Ini berarti sistem transportasi bersih dan ramah lingkungan yang tetap efektif tanpa mengganggu estetika kota.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan bahwa trem sebagai solusi untuk mengatasi masalah klasik kota besar: kemacetan lalu lintas, polusi, dan ketidaknyamanan transportasi publik.
Moda angkutan berbasis rel dinilai lebih efisien dalam kapasitas angkut dan memiliki jadwal yang lebih pasti dibanding moda seperti angkot atau bus kecil.
Pemprov dan pemkot selama ini menempatkan angkot sebagai biang keladi semrawutnya lalu lintas Bogor. Ngetem sembarangan, ugal-ugalan, rebutan penumpang—semua itu benar.
Alih-alih pembenahan menyeluruh—standarisasi armada, subsidi operasional, integrasi rute, atau skema transisi pengemudi—yang muncul justru trem.
Trem bukan solusi dari kegagalan mengelola angkot. Trem adalah cara pintas untuk menyingkirkan masalah tanpa membereskan akarnya.
Trem Jangan Jadi Alat Elitisasi Kota
Bogor tidak anti kemajuan. Tapi kota ini juga tidak boleh dikorbankan demi ambisi terlihat modern dan elit. Trem bisa jadi solusi, kalau ia lahir dari perbaikan sistem, bukan penghapusan sepihak.
Kehadiran trem membawa simbol perubahan: Bogor bukan hanya kota hujan yang nyaman, tetapi juga kota masa depan yang terhubung, bersih, dan berkelanjutan. Limbah emisi diturunkan, kapasitas angkut penumpang meningkat, dan mobilitas masyarakat yang sehari-hari menuju sekolah, kantor, dan pusat ekonomi jadi lebih lancar.
Dengan rencana uji coba yang diproyeksikan 2026, trem bukan sekadar wacana atau janji masa depan — tetapi kemungkinan nyata perubahan cara hidup warga kota yang bermukim di salah satu pusat urban berkembang di Jawa Barat.













