Koma.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan pihaknya akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela, dan melibatkan perusahaan-perusahaan energi AS untuk menanamkan investasi bernilai miliaran dolar guna membenahi industri minyak di sana, yang selama ini terbengkalai.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Sabtu waktu setempat, di tengah situasi politik Venezuela yang bergejolak.
Termasuk menyebut Amerika Serikat untuk sementara akan mengelola pemerintahan Venezuela, usai menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer berskala besar.
“Kami akan membawa perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di mana pun di dunia, masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, dikutip Minggu (4/1/2025), dilansir dari CNN.
Menurut data US Energy Information Administration (EIA), Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, atau sekitar seperlima dari total cadangan minyak dunia.
Besarnya cadangan tersebut dinilai akan memainkan peran kunci dalam masa depan Venezuela.
Venezuela saat ini tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, namun produksi nyatanya jauh dari potensi tersebut.
Produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 0,8 persen dari produksi minyak global.
Angka itu kurang dari setengah produksi sebelum Maduro berkuasa pada 2013, dan bahkan kurang dari sepertiga produksi sekitar 3,5 juta barel per hari sebelum rezim sosialis mengambil alih kendali industri minyak.
Penurunan tajam ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari sanksi internasional, krisis ekonomi berkepanjangan, hingga minimnya investasi dan perawatan infrastruktur, sebagaimana dicatat EIA.
Perusahaan minyak dan gas milik negara, PDVSA, bahkan mengakui bahwa jaringan pipa mereka belum diperbarui selama 50 tahun, dan biaya untuk mengembalikan produksi ke level puncak diperkirakan mencapai USD 58 miliar.
“Untuk minyak, ini berpotensi menjadi peristiwa bersejarah,” ujar Phil Flynn, analis pasar senior Price Futures Group.
“Rezim Maduro dan (mantan Presiden Venezuela) Hugo Chavez pada dasarnya menjarah industri minyak Venezuela,” tambahnya.
Mengapa Minyak Venezuela Penting?
Minyak Venezuela tergolong heavy sour crude, jenis minyak berat dengan kandungan sulfur tinggi yang memerlukan teknologi khusus untuk diproses. Perusahaan minyak internasional memiliki kemampuan tersebut, tetapi selama bertahun-tahun dibatasi untuk beroperasi di Venezuela.
Sebaliknya, Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia lebih banyak menghasilkan light sweet crude, yang ideal untuk bensin tetapi kurang cocok untuk produk industri berat. Minyak berat seperti milik Venezuela justru sangat dibutuhkan untuk memproduksi diesel, aspal, dan bahan bakar industri berat, sementara pasokan diesel global saat ini tergolong ketat, sebagian akibat sanksi terhadap minyak Venezuela.
Menurut Flynn, sebagian besar kilang minyak di AS dirancang untuk mengolah minyak berat Venezuela dan bekerja jauh lebih efisien menggunakan minyak tersebut dibandingkan minyak domestik AS.
“Jika ini benar-benar berjalan lancar, dan sejauh ini terlihat sebagai operasi yang sangat terkelola, dan perusahaan AS diizinkan kembali membangun industri minyak Venezuela, ini bisa menjadi pengubah permainan bagi pasar minyak global,” kata Flynn.
Trump sendiri menyebut bisnis minyak Venezuela sebagai “kegagalan total.”
“Mereka memompa hampir tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang seharusnya bisa mereka pompa dan apa yang sebenarnya bisa terjadi,” ujar Trump.
“Kami akan membawa perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di mana pun di dunia, masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” tambahnya.













