Koma.id – Kalangan dunia digemparkan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro yang ditangkap dalam serangan militer besar-besaran Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.
Serangan terbaru AS terhadap Venezuela serta penangkapan Maduro telah memicu kecaman dan keprihatinan luas dari berbagai penjuru dunia.
Penangkapan tersebut disampaikan langusng oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump alam sebuah postingan di Truth Social.
“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya, ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Operasi ini dilakukan bersama dengan Penegak Hukum AS,” katanya.
Sementera itu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menuntut “pembebasan segera” pasangan tersebut dalam sebuah sidang Dewan Pertahanan Nasional yang disiarkan oleh saluran televisi negara. Maduro adalah “satu-satunya presiden” Venezuela, kata dia.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Sabtu mengumumkan akan menggelar rapat darurat pada Senin (5/1) untuk membahas operasi AS terhadap Venezuela.
Berikut profil dan latar belakang Maduro
Nicolás Maduro Moros lahir pada 23 November 1962 di Caracas dalam keluarga kelas pekerja. Ayahnya, Nicolás Maduro García, dikenal sebagai aktivis serikat buruh dan meninggal dalam kecelakaan lalu lintas pada 1989.
Ibunya, Teresa de Jesús Moros, berasal dari kota Cúcuta di perbatasan Kolombia–Venezuela. Maduro tumbuh di lingkungan El Valle, wilayah padat penduduk di barat Caracas, dan dibesarkan dalam tradisi Katolik.
Ia menempuh pendidikan di sekolah negeri Liceo José Ávalos, El Valle, dan aktif dalam serikat pelajar. Namun, ia dituduh oleh berbagai pihak tidak pernah menamatkan pendidikan menengah.
Setelah itu, ia bekerja sebagai sopir bus di perusahaan Metro Caracas, di mana ia turut membentuk serikat pekerja tidak resmi di tengah pembatasan serikat saat itu. Pada 1983, ia menjadi pengawal José Vicente Rangel dalam kampanye presiden.
Pada usia 24 tahun, Maduro dikirim ke Havana oleh Socialist League untuk mengikuti pelatihan politik selama satu tahun di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella, yang dikelola oleh Union of Young Communists.
Pada awal 1990-an, ia bergabung dengan gerakan MBR-200 yang mendukung Hugo Chávez dan turut berkampanye untuk pembebasan Chávez pasca-kudeta gagal 1992.
Ia juga ikut mendirikan Movement of the Fifth Republic (MVR), yang kemudian mengusung Chávez dalam pemilu 1998.
Karier politik Maduro dimulai saat terpilih menjadi anggota Chamber of Deputies pada 1998. Ia kemudian menjadi anggota Majelis Konstituante (1999), anggota National Assembly (2000), dan sempat menjabat sebagai Presiden Majelis pada 2005–2006.
Setelah itu, ia menjabat Menteri Luar Negeri dari 2006 hingga 2012. Setelah pemilu 2012, Chávez mengangkatnya sebagai Wakil Presiden.
Pada 13 Oktober 2012, Chávez secara resmi menunjuk Maduro sebagai wakil presiden dan pada 8 Desember 2012, dalam pidato terakhirnya, ia meminta rakyat Venezuela mendukung Maduro jika pemilu baru harus digelar.
Setelah Chávez meninggal dunia pada 5 Maret 2013, Maduro mengambil alih kekuasaan sebagai Presiden Venezuela.













