Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Ekonomi Makin Lesu, Uang Beredar Menyusut, HIPMI Warning Pemerintah Turun Tangan dan Waspada

Views
×

Ekonomi Makin Lesu, Uang Beredar Menyusut, HIPMI Warning Pemerintah Turun Tangan dan Waspada

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Makin Lesu, Uang Beredar Menyusut, HIPMI Warning Pemerintah Turun Tangan dan Waspada

Koma.id Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengingatkan adanya tanda-tanda perlambatan ekonomi, salah satunya terlihat dari menurunnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Kondisi ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ketua Umum BPP Hipmi Akbar Himawan Buchari menyoroti mulai munculnya tanda-tanda perlambatan ekonomi sejak awal tahun ini. Puncaknya, kata dia, terlihat jelas saat momentum Idulfitri 1446 Hijriah.

Silakan gulirkan ke bawah

“Setiap tahun, Lebaran biasanya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk mendorong laju ekonomi. Tapi, tahun ini sepertinya tidak demikian,” ujar Akbar dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (4/4/2025).

Mengacu pada data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, ia menyebut perputaran uang selama Lebaran mengalami penurunan cukup tajam, yakni sebesar 12,28 persen. Jika tahun lalu nilai perputaran uang mencapai Rp157,3 triliun, tahun ini hanya sekitar Rp137,98 triliun.

Bahkan, Center of Economic and Law Studies (Celios) memprediksi tambahan Jumlah Uang Beredar (JUB) hanya Rp 114,37 triliun. Turun 16,5 persen dari tahun 2024 yang mencapai Rp 136,97 triliun.

“Ini merupakan warning atau lampu kuning bagi Pemerintah. Jika tidak segera diatasi, pertumbuhan ekonomi 8 persen hanya akan menjadi isapan jempol belaka,” pesan Akbar.

Indikasi lainnya adalah penurunan jumlah pemudik. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), total pemudik tahun ini hanya 146,48 juta orang. Turun 24 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta orang.

Fenomena ini tentu mempengaruhi industri pariwisata. Akbar mencontohkan okupansi hotel kamar di Yogyakarta. Menurut data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), okupansi Libur Lebaran jeblok 30 persen. Begitu juga di Bali.

“Saat ini, masyarakat benar-benar hati-hati membelanjakan uangnya. Ini menandakan ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Sehingga perlu intervensi Pemerintah,” kata Akbar.

Soal daya beli, Akbar melihat adanya penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 0,4 persen dari Desember 2024 ke Januari 2025. Padahal, sejak 2022, IKK selalu naik di awal tahun. Hal itu cermin bahwa konsumen optimis.

Data lainnya juga menunjukkan adanya penurunan angka Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2025. Pada Desember 2024, angka IPR sebesar 222 poin, turun menjadi 211,5 di Januari 2025.

Menurut Akbar, Pemerintah harus segera turun tangan, memperbaiki berbagai indikasi yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu, persoalan tidak semakin buruk.

“Caranya, dengan berbagai hal. Seperti mempercepat realisasi belanja sosial dan infrastruktur padat karya, menstabilkan harga kebutuhan pokok, dan memastikan UMKM mendapat dukungan konkret,” pungkasnya.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.