Koma.id – Peneliti Peaceful Papua Initiative SETARA Institute, mengatakan embebasan Phillip Mark Mehrtens melalui pendekatan persuasif merupakan bukti (evidence) bahwa dialog merupakan pendekatan yang efektif dan konstruktif.
Keberhasilan tersebut juga merupakan momentum untuk mengevaluasi pendekatan keamanan dalam mengatasi konflik di Papua dan terbukti sejauh ini gagal.
“Pendekatan persuasif dari sisi nilai dan secara paradigmatik lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang kental dengan gotong royong dan musyawarah,” kata Fanani pada Kamis (26/9/2024).
Dengan demikian, pendekatan dialog dan persuasi perlu menjadi arus utama dalam respons negara terhadap konflik, tidak hanya di Papua tetapi juga di daerah lain saat ini dan di masa depan.
Ditegaskannya, pengarusutamaan pendekatan persuasif sejalan dengan paradigma keamanan manusia (human security) dan dapat menjadi upaya transformatif dalam menciptakan rasa aman dan damai bagi masyarakat Papua.
“Keberlanjutan transformasi ke arah perwujudukan rasa aman dan damai memerlukan komitmen dan kehendak politik dari para pihak untuk membangun kepercayaan kuat satu sama lain,” ujar dia lagi.
Selain itu, dia menyatakan bahwa pendekatan persuasif yang terbukti berhasil dalam pembebasan pilot Susi Air seharusnya semakin menggerakkan sumber daya pemerintah untuk mengaktivasi sekaligus mengefektifkan dialog pemerintah dengan seluruh elemen anak bangsa di Papua dan berbagai aktor kunci untuk Papua, dari masyarakat sipil, perguruan tinggi, hingga badan-badan pemerintah.
“Pemerintah seharusnya segera membentuk utusan khusus _(special envoy) ke Papua dengan misi utama untuk penyelesaian konflik secara damai dan mewujudkan Papua damai (peaceful Papua). Utusan ini haruslah individu yang dapat dipercaya dan diterima oleh masyarakat Papua, agar komunikasi yang terjalin tidak terkesan politis dan formalistis belaka,” pungkasnya.













