Koma.id– Sutradara film dokumenter berjudul “Pesta Babi” Dandhy Dwi Laksono angkat bicara terkait polemik sejumlah kampus yang membubarkan kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi. Menurut Dandhy, kampus yang seharusnya menjadi ruang aman bagi kebebasan berekspresi justru terlihat reaktif terhadap isu sensitif, khususnya persoalan di Papua.
“Ini paradoks,” kata Dandhy melansir Tempo.
Polemik Kabar Ancaman Somasi ke Ocha
Pembubaran kegiatan tercatat terjadi di Universitas Islam Negeri Mataram, Universitas Mandalika. Di Universitas Mataram, pemutaran film dibatalkan sebelum dimulai. Bahkan Wakil Rektor III Unram, Sujita, menilai isi film tidak layak diputar di lingkungan kampus karena dianggap mendiskreditkan pemerintah dan berpotensi mengganggu kondusivitas.
Dandhy menilai alasan tersebut justru menunjukkan paradoks karena kampus seharusnya menjadi tempat paling terbuka untuk membahas isu-isu penting. Film “Pesta Babi” sendiri mengangkat dampak ekspansi industri dan proyek strategis nasional terhadap masyarakat adat di Papua, termasuk di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
“Ini sangat aneh ketika kemudian justru di luar kampuslah film ini malah dianggap kondusif,” ujar Dandhy.













