KOMA.ID, JAKARTA – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tahun ini dipastikan berlangsung panas. Sekitar 10.000 buruh yang tergabung dalam Konfederasi KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) bersama Aliansi GEBRAK (Gerakan Buruh Bersama Rakyat) akan menggelar Peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 “May day” di depan Gedung DPR RI, Jakarta.
Aksi ini mengusung tema #MayDayBersamaRakyat dengan slogan tegas: “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, Militerisme : Wujudkan Kerja Layak, Upah Layak dan Hidup Layak”.
Konfederasi KASBI menegaskan aksi ini bersifat mandiri dan tidak bergabung dengan acara May Day Fiesta yang digelar di Monas bersama pemerintah. Menurut mereka, kondisi buruh saat ini masih jauh dari sejahtera. Sistem kerja fleksibel dinilai justru memperlemah kepastian kerja dan hak-hak buruh.
Frans Freddy Soroti Kericuhan Diskusi di UGM: Kampus Harus Jadi Arena Adu Gagasan, Bukan Adu Emosi
“Kasbi dan Aliansi GEBRAK tidak bergabung ke acara MayDay Fiesta di Monas bareng Presiden karena kondisi perburuhan secara riil memang masih sangat memprihatinkan,” kata Ketua Umum KASBI Unang Sunarno, Kamis (30/4/2026).
Dalam pernyataannya, Sunarno juga menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi buruh, mulai dari upah rendah di bawah standar, jam kerja panjang, hingga minimnya jaminan sosial dan keselamatan kerja. Mereka juga mengkritisi kebijakan pemerintah di era Prabowo Subianto yang dinilai membuka ruang praktik militerisme di ranah sipil.
Ghilman Hanif Ingatkan Kritik Mahasiswa Harus Jadi Bahan Evaluasi, Bukan Ancaman bagi Pemerintah
Selain itu, KASBI menilai kritik dari masyarakat kerap direspons dengan tindakan represif, termasuk kriminalisasi aktivis.
Ini 10 Tuntutan Buruh
Dalam aksi May Day 2026, KASBI membawa 10 tuntutan utama, di antaranya:
- Segera Wujudkan UU Ketenagakerjaan Pro Buruh dengan melibatkan serikat buruh, pasca putusan MK 168 tentang Omnibus Law Cipta kerja;
- Reformasi sistem pengupahan dan hilangkan Disparitas upah : Berlakukan upah layak nasional yang adil dan bermartabat bagi kaum buruh;
- Jamin kepastian kerja : Hapus Sistem Outsourcing, kerja kontrak, kemitraan palsu, dan pemagangan eksploitatif;
- Ratifikasi Konvensi ILO 188, dan konvensi ILO 190, jamin dan lindungi buruh perempuan dan disabilitas;
- Sejahterakan tenaga pendidik, dosen, pekerja platform, pekerja medis dan kesehatan.
- Stop PHK masal dan Pemberangusan Serikat Buruh;
- Wujudkan pendidikan gratis, kesehatan gratis dan berkualitas;
- Tegakkan supremasi sipil, jaga demokrasi, stop militerisme, stop kriminalisasi gerakan rakyat, bebaskan aktivis yang di tangkap;
- Jalankan Reforma Agraria sejati, hentikan penggusuran tanah rakyat;
- Hentikan Perang : Solidaritas untuk kedaulatan rakyat Palestina, Iran, Venezuela, Cuba, dll.
Tak hanya di Jakarta, aksi serupa juga akan digelar serentak di berbagai daerah seperti Indramayu, Garut, Surabaya, Makassar, hingga Morowali.
Sunarno pun menegaskan bahwa May Day bukan sekadar hari libur atau perayaan biasa, melainkan momentum perjuangan. Dengan semangat solidaritas, aksi ini diharapkan menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh masih panjang dan membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
“May Day bukan sekadar libur nasional, melainkan momentum refleksi atas komitmen kesetaraan, keadilan sosial, dan martabat manusia di tempat kerja,” pungkasnya.













