Koma.id | Bekasi – Tren wisata kesehatan (wellness tourism) ke kawasan pegunungan semakin diminati keluarga urban. Udara sejuk dan suasana tenang dianggap mampu memulihkan energi. Namun, di balik pesona alam, ada tantangan fisiologis yang perlu diwaspadai, terutama bagi anak-anak.
Direktur RS Budi Lestari, dr. Titi Anggraeni Nasution, MARS, MM, menjelaskan bahwa anak memiliki frekuensi napas lebih tinggi dan cadangan oksigen lebih rendah dibanding orang dewasa. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap penurunan tekanan oksigen di dataran tinggi.
“Mekanisme kompensasi paru-paru anak terhadap suhu rendah dan tipisnya oksigen belum sesempurna orang dewasa,” ujarnya, Rabu (15/04).
Risiko Hipoksia dan Gangguan Napas
Menurut dr. Titi, perubahan suhu dan tekanan udara yang drastis bisa memicu bronkospasme atau kolaps saluran pernapasan, terutama pada anak dengan riwayat sensitivitas. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain napas cepat (tachypnea), penggunaan otot bantu napas, hingga kelelahan yang tidak biasa.
Pentingnya Edukasi Preventif
Dr. Titi menekankan pentingnya edukasi preventif bagi orang tua sebelum membawa anak beraktivitas di alam terbuka. Aklimatisasi bertahap, observasi pola napas, serta mengenali tanda-tanda penurunan saturasi oksigen menjadi langkah strategis untuk mencegah risiko kesehatan.
Peran Fasilitas Kesehatan
Dr. Titi juga menyoroti pentingnya kesiapan layanan kesehatan. Ia menekankan kecepatan respons medis pasca-aktivitas luar ruang sebagai faktor krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. “Visi kami adalah memastikan setiap anak mendapatkan penanganan yang presisi,” katanya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa momen kebersamaan di alam terbuka tidak hanya soal keindahan visual, tetapi juga harus aman secara medis. Kesadaran orang tua terhadap risiko fisiologis anak di dataran tinggi menjadi kunci agar wisata keluarga tetap menyenangkan sekaligus sehat.








