Koma.id | Jakarta – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diperkirakan akan mengalami penurunan pada 1 Juli 2026. Proyeksi ini muncul seiring dengan tren melemahnya harga minyak mentah dunia yang kini berada di bawah 80 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, setelah sebelumnya sempat menembus level 100 dolar AS akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyatakan pemerintah semestinya melakukan penyesuaian harga ke bawah. “Mestinya, awal Juli ini Pertamax akan diturunkan harganya,” ujarnya, Kamis (25/6).
Fahmy menilai penurunan harga minyak terjadi setelah meredanya konflik antara AS dan Iran serta dibukanya kembali Selat Hormuz yang sempat memicu kelangkaan pasokan global.
Sebelumnya, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, memproyeksikan harga Pertamax turun bertahap dari Rp16.250 per liter pada Juni menuju kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026. Ia memperkirakan harga turun ke Rp15.228 per liter pada Juli, lalu terus terkoreksi hingga akhir tahun seiring melemahnya Indonesian Crude Price (ICP) dan menguatnya kurs rupiah.
Menurut Yayan, ruang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka, terbukti dari turunnya harga Dexlite dan Pertamina Dex. Namun, ia mengingatkan ketidakpastian geopolitik masih tinggi, sehingga pemerintah perlu menyiapkan skenario fiskal menghadapi kemungkinan penutupan kembali Selat Hormuz.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai peluang perdamaian antara AS dan Iran memberi sentimen positif bagi perekonomian global. Stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan membaik, biaya dana lebih kompetitif, dan iklim investasi semakin kuat. Meski demikian, pemerintah tetap bersikap hati-hati.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menegaskan pihaknya terus memantau dinamika hubungan AS-Iran yang masih fluktuatif. “Optimistis harus, namun langkah antisipatif juga harus dilakukan,” katanya.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya mencatat kenaikan harga Pertamax pada Juni 2026 menyumbang sekitar 0,25 persen terhadap inflasi nasional. Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menekankan bahwa harga BBM nonsubsidi akan terus mengikuti pergerakan energi global. Penurunan harga Pertamax pada Juli diperkirakan dapat meredakan tekanan inflasi yang sempat meningkat akibat lonjakan harga energi.
Evaluasi harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Jika harga Pertamax saat ini dinilai berada di atas harga pasar, maka penurunan harga pada Juli menjadi langkah yang tidak terelakkan bagi pemerintah.








