Koma.id– Tim investigasi independen membeberkan dugaan keterlibatan sedikitnya 16 orang dalam rangkaian aksi penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang terjadi pada 12 Maret 2026. Temuan tersebut diperoleh melalui analisis rekaman CCTV serta pemetaan kronologi sebelum hingga setelah kejadian.
Peneliti independen, Ravio Patra, yang ditugaskan oleh Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), menyampaikan hasil investigasi menegaskan bahwa temuan ini merupakan upaya untuk mengungkap fakta di balik dugaan aksi teror terhadap korban.
“Saya akan memaparkan hasil temuan tim investigasi yang ditugaskan oleh Tim Advokasi untuk Demokrasi untuk mengungkap fakta-fakta sebenarnya tentang kasus aksi teror, percobaan pembunuhan berencana, dan penganiayaan berat yang dialami oleh rekan kami, Andrie Yunus,” ujar Ravio dikutip.
Hasil penelusuran mengidentifikasi 16 orang tak dikenal (OTK) yang dibagi ke dalam empat kelompok peran, yakni eksekutor, pengintai jarak dekat, tim komando, dan pengintai jarak jauh. Dari jumlah tersebut, lima orang diduga berperan langsung sebagai eksekutor penyiraman, sementara lainnya terlibat dalam pemantauan, koordinasi, hingga pengamanan pelarian.
Ravio menjelaskan, analisis terhadap 34 rekaman CCTV menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan aksi spontan, melainkan terencana dan terstruktur. Tim investigasi juga melakukan metode pemetaan terbalik untuk menelusuri pergerakan para pelaku sebelum kejadian.
Dari hasil analisis, terlihat adanya koordinasi antar pelaku di sejumlah titik, termasuk kawasan Diponegoro dan sekitar YLBHI, sebelum korban mulai dibuntuti usai mengikuti kegiatan di Gedung YLBHI. Para pelaku diduga saling berkomunikasi untuk mengarahkan eksekusi di lokasi kejadian.
Serangan terjadi di kawasan Salemba ketika dua pelaku mendekati korban menggunakan sepeda motor dan menyiramkan cairan keras. Akibatnya, korban mengalami luka bakar serius hingga terjatuh di lokasi kejadian.
Ravio menyebut cairan tersebut menyebabkan kerusakan pada pakaian korban, termasuk baju, tas, hingga bagian kendaraan. Ia juga mengungkap adanya dugaan pelaku ikut terkena cipratan cairan dan sempat membersihkan diri menggunakan air mineral setelah kejadian.
Selain itu, sejumlah kendaraan yang digunakan pelaku teridentifikasi sebagai milik warga sipil, yang memperkuat dugaan adanya keterlibatan pihak nonmiliter dalam aksi tersebut.
“Ini menjadi sinyal kuat pentingnya pembentukan TGPF yang independen dan memiliki legitimasi hukum kuat, serta melibatkan berbagai elemen, termasuk masyarakat sipil,” jelasnya.













