Koma.id– Sejumlah temuan baru mengemuka dalam penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus. Koalisi masyarakat sipil dan lembaga bantuan hukum mengungkap indikasi kuat bahwa peristiwa tersebut tidak dilakukan secara spontan, melainkan terencana dan melibatkan banyak pihak.
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Dimas Bagus Arya, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan penelusuran melalui rekaman CCTV milik warga di sekitar lokasi kejadian. Dari hasil analisis tersebut, ditemukan sejumlah petunjuk penting.
“Kami mendapatkan beberapa rekaman CCTV dari warga di lokasi tempat kejadian perkara. Ada beberapa titik yang kami telusuri, jumlahnya belasan, bahkan mungkin lebih,” ujar Dimas melansir YouTube Tempo.
Menurutnya, banyaknya titik yang teridentifikasi menunjukkan adanya pola pergerakan yang patut diduga sebagai bagian dari skenario yang telah dirancang sebelumnya.
Di samping itu, dua hari setelah kejadian, tepatnya pada 14 Maret, pihak KontraS juga menerima informasi mengenai rencana kunjungan pejabat negara. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diketahui datang menjenguk korban. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit di selasar, Dimas menyampaikan pihaknya tidak butuh pencitraan.
Namun menekankan agar aparat penegak hukum tidak hanya berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik serangan tersebut.
“Kami tidak butuh pencitraan, tapi komitmen untuk penyelesaian kasus. Wapres menyampaikan bahwa ia diminta oleh Presiden Prabowo Subianto, dan bahwa sudah ada instruksi untuk mengusut tuntas kasus ini,” kata Dimas.
Senada dengan itu, Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Muhamad Isnur, mengungkap adanya indikasi keterlibatan lebih dari 10 pelaku. Ia menyoroti sejumlah kejanggalan yang menunjukkan adanya persiapan matang sebelum kejadian.
“Siapa yang membeli air keras, siapa yang menyiapkan, dan siapa yang mengondisikan jalan. Beberapa menit sebelum peristiwa, jalan terlihat kosong, seolah sudah diatur. Kalau dihitung, tidak mungkin pelaku di bawah 10 orang,” ujar Isnur.
Ia bahkan mengungkap dugaan awal bahwa serangan tersebut sempat direncanakan terjadi di depan kantor YLBHI.
Selain itu, muncul pertanyaan terkait empat orang yang telah ditahan oleh Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia. Hingga kini, identitas lengkap para terduga pelaku belum dipublikasikan, sehingga belum dapat dipastikan apakah mereka merupakan pihak yang sama dengan yang terlibat dalam rekaman atau hasil penelusuran lapangan.
Sementara itu, laporan investigasi dari Tempo mengungkap adanya dugaan keberadaan satuan tugas yang disebut “Satgas S” yang beroperasi di kawasan Melawai. Berdasarkan dokumen yang ditemukan, lokasi tersebut diduga merupakan rumah yang terkait dengan Badan Intelijen Strategis yang berfungsi sebagai pos koordinasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan Melawai menjadi salah satu titik awal yang berkaitan dengan rangkaian awal koordinasi pelaku sebelum peristiwa penyiraman terhadap Andrie Yunus.
Temuan-temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa kasus tersebut melibatkan jaringan yang lebih luas dan terorganisir.













