Koma.id, Bogor — Sejumlah ekonom mulai angkat suara terkait arah kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait rencana realokasi anggaran untuk program prioritas nasional.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menyampaikan langsung pandangannya dalam forum diskusi meja bundar yang digelar di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Rabu malam (17/3/2026).
Sejumlah Titik di Jakarta Gelap Sabtu Malam
Dalam forum tersebut, Faisal menyoroti rencana pemerintah untuk memangkas anggaran kementerian dan lembaga sebagai langkah menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dikaji ulang secara matang.
“Pemangkasan anggaran kementerian dan lembaga berpotensi mengganggu transfer ke daerah, yang pada akhirnya bisa menekan konsumsi masyarakat,” ujar Faisal.
Ia mengingatkan bahwa belanja pemerintah, khususnya transfer ke daerah, memiliki peran penting dalam menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi nasional. Jika terganggu, efeknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Sebagai alternatif, Faisal menyarankan pemerintah untuk lebih selektif dengan memangkas program-program yang dinilai tidak efektif atau kurang mendesak. Langkah ini dianggap lebih aman dibandingkan memangkas belanja yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi daerah.
Diketahui, Presiden Prabowo tengah merancang efisiensi anggaran dengan memangkas hingga 15 pos belanja rutin. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap potensi pelebaran defisit APBN yang diperkirakan sejumlah ekonom bisa mendekati 4 persen pada 2026—melampaui batas aman 3 persen sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Adapun hasil penghematan anggaran tersebut rencananya akan dialokasikan untuk mendukung program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu janji kampanye utama Presiden Prabowo.
Perdebatan ini mencerminkan tantangan besar pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan pembiayaan program prioritas, di tengah tekanan ekonomi global dan domestik yang masih dinamis.













