Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

Syam Basrijal: Disiplin Kesadaran Jadi Kunci Ketahanan Manusia di Era AI

Views
×

Syam Basrijal: Disiplin Kesadaran Jadi Kunci Ketahanan Manusia di Era AI

Sebarkan artikel ini
Founder Restorasi Jiwa Indonesia
Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal di Jakarta.

KOMA.ID, JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI), Syam Basrijal, menegaskan bahwa tantangan terbesar manusia di era kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital bukan semata soal kemampuan teknis, melainkan ketahanan batin yang dibangun melalui disiplin kesadaran.

Menurut Syam, perubahan akibat AI berlangsung sangat cepat dan masif, memengaruhi dunia kerja, relasi sosial, hingga cara manusia memaknai dirinya sendiri. Namun, ia menilai transformasi diri yang sejati tidak lahir dari motivasi sesaat.

Silakan gulirkan ke bawah

“Transformasi diri yang sejati tidak pernah lahir dari motivasi sesaat, melainkan dari disiplin kesadaran yang dibangun secara konsisten,” ujar Syam dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Dalam pandangan Restorasi Jiwa Indonesia, disiplin kesadaran merupakan fondasi batin agar manusia tetap stabil di tengah ketidakpastian zaman. Tanpa fondasi tersebut, kecepatan perubahan justru berpotensi memicu kepanikan dan kehilangan arah hidup.

“Tanpa fondasi ini, kecepatan perubahan justru memicu kepanikan, reaktivitas, dan kehilangan pusat diri,” katanya.

Syam menekankan bahwa disiplin dalam konteks ini bukanlah bentuk kekakuan atau tekanan terhadap diri sendiri, melainkan ekspresi cinta pada diri. Disiplin kesadaran, lanjutnya, mencakup perawatan tubuh, penataan pikiran, pengakuan emosi, pemeliharaan relasi, serta spiritualitas yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.

“AI boleh mempercepat dunia, tetapi hanya disiplin kesadaran yang mampu menjaga manusia tetap utuh di dalamnya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, langkah awal dalam membangun disiplin kesadaran adalah menciptakan jeda sebelum bereaksi. Menurutnya, banyak konflik dan keputusan keliru lahir dari respons spontan yang tidak jernih.

“Dengan menarik napas, merasakan tubuh, dan memberi jarak sekitar sepuluh detik sebelum merespons, seseorang sedang melatih kepemimpinan atas dirinya sendiri,” kata Syam.

Selain itu, ia mendorong praktik audit energi harian sebagai cara sederhana membangun stabilitas batin. Melalui refleksi atas hal-hal yang menguatkan dan menguras energi, seseorang dapat mulai menyusun sistem hidup yang lebih selaras.

“Pertanyaan sederhana seperti ‘Apa yang menguatkan saya hari ini?’ dan ‘Apa yang menguras energi saya?’ dapat membuka kesadaran baru,” ujarnya.

Syam juga menyoroti relasi manusia dengan teknologi. Ia menilai, ketika notifikasi dan algoritma menentukan ritme hidup, manusia berisiko kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.

“Dengan menjadwalkan waktu khusus untuk teknologi—bukan hidup mengikuti iramanya—manusia mengembalikan posisi alat sebagai pelayan, bukan pengendali,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa nilai hidup hanya dapat diperkuat melalui tindakan konkret sehari-hari, bukan sekadar slogan.

“Nilai bukan slogan atau pernyataan ideal, melainkan perilaku yang diulang setiap hari,” kata Syam.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa manusia yang mampu bertahan menghadapi gelombang perubahan adalah mereka yang memiliki sistem batin paling stabil, bukan sekadar alat paling canggih.

“Ketika pusat diri ditemukan dan dijaga, teknologi apa pun—termasuk kecerdasan buatan—akan menjadi sekutu yang memperkuat, bukan ancaman yang melemahkan,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.