Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen Jaga Stabilitas Rupiah

Views
×

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 4,75 Persen Jaga Stabilitas Rupiah

Sebarkan artikel ini
Bank indonesia dok arsip BI
Bank Indonesia. (Foto/Istimewa)

Koma.id Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7-day reverse repurchase rate (BI7DRR) di level 4,75 persen pada periode kebijakan terbaru. Keputusan ini diambil sebagai langkah menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya nilai tukar rupiah, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa kebijakan suku bunga tersebut mencerminkan keseimbangan antara upaya menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik yang masih menunjukkan ketahanan.

Silakan gulirkan ke bawah

Fokus Stabilitas di Tengah Tekanan Global

BI menilai dinamika global masih diwarnai oleh ketidakpastian, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral negara maju, volatilitas arus modal, hingga risiko geopolitik. Dalam kondisi tersebut, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama guna menjaga kepercayaan pasar dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain instrumen suku bunga, BI juga terus mengoptimalkan bauran kebijakan lainnya, termasuk intervensi di pasar valas dan penguatan kebijakan makroprudensial, untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

Inflasi Terkendali, Pertumbuhan Tetap Dijaga

BI menyebut inflasi domestik masih berada dalam sasaran yang ditetapkan, didukung oleh terjaganya pasokan pangan dan stabilitas harga inti. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi dinilai masih menopang pertumbuhan ekonomi nasional meski terdapat tekanan dari eksternal.

Dalam konteks tersebut, BI menilai mempertahankan suku bunga acuan merupakan langkah yang tepat agar momentum pemulihan ekonomi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas harga.

Peluang Pelonggaran Moneter 2026

Bank Indonesia juga membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter pada 2026. Namun, langkah tersebut akan sangat bergantung pada kondisi inflasi yang tetap moderat serta meredanya risiko global.

“Ruang penurunan suku bunga tetap terbuka ke depan, dengan catatan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga,” demikian disampaikan BI dalam pernyataan resminya.

Dampak ke Pasar dan Pemulihan Ekonomi

Kebijakan penahanan suku bunga ini berdampak langsung pada sektor perbankan dan pasar modal, terutama dalam menjaga biaya dana dan stabilitas likuiditas. BI juga menilai kebijakan moneter yang terukur menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemulihan ekonomi, termasuk di daerah-daerah yang terdampak bencana alam.

Dengan langkah ini, BI berharap kepercayaan pelaku usaha dan investor tetap terjaga, sekaligus memastikan stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih menantang.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.