Pola Pikir Gen Z
Lebih lanjut, Syam Basrijal juga menjelaskan tentang bagaimana pola pikir Gen Z. Di mana mereka cenderung haus dengan keadilan dan keberagaman. Akibatnya, kelompok generasi ini akan cenderung sangat vokal dan sensitif.
Aspek yang akan sangat diperhatikan adalah soal kesetaraan genderm bagaimana hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Kemudian soal toleransi beragama dan antar suku yang hidup berdampingan.
“Mereka tidak segan bersuara tentang kesetaraan dan kekerasan berbasis gender, toleransi, anti diskriminasi pada kelompok marjinal dan kerusakan lingkungan hingga krisis iklim,” tandasnya.
Karena hidup di era yang deras akan informasi, maka Gen Z juga akan memiliki perilaku yang cenderung bisa dianggap kelompok Milenial atau Gen Y sebagai perilaku tidak sopan dan membangkang. Di antaranya mereka akan bertanya ketika merasa tidak paham, tak segan menyampaikan kritik ketika merasa ada yang tidak adil, hingga menolak keras jika mendapatkan perintah tanpa penjelasan yang rinci.
“Bagi sebagian orang tua atau pemimpin, ini terasa seperti pembangkangan. Padahal sering kali, mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya nalar dan suara. Mereka ingin diajak berdialog, bukan sekadar diperintahkan,” tutur Syam Basrijal.
Berlanjut soal spiritualitas. Syam Basrijal memandang bahwa Gen Z bisa jadi terkesan anti agama, padahal mereka sebenarnya tidak anti agama, melainkan sangat memilih kecenderungan untuk enggan berinteraksi dengan sektor agama yang beraliran keras, kaku, hingga terkesan tidak realistis alias masuk akal. Akibatnya, mereka akan memilih untuk mencari referensi dari internet. Situasi ini yang dia sebut sebagai “Spiritualitas Instan”.
“Mereka akan menemukan ustadz, pendeta, romo, dan pembimbing spiritual di Instagram, YouTube, TikTok. Belajar tentang Tuhan dari video pendek tapi menyentuh hati, serta bisa sampai menangis akibat satu kalimat reflektif di kolom komentar,” tandasnya.
Lantas bagaimana menyikapi pola pikir Gen Z semacam itu. Syam Basrijal menilai jika mereka perlu orang-orang yang mampu mendengar dan membimbing tanpa menjastifikasi. Termasuk memberikan cap murtad, kafir, atau kurang beriman.
“Mereka butuh pendamping yang mau mendengarkan tanpa men-cap, menjawab dengan hati, dan mengaki bahwa ada misteri yang tidak selalu harus dijawab tapi bisa dihidupi,” ucap Syam Basrijal.
Cara Pandang Pekerjaan dan Kepemimpinan
Dalam konteks generasi zoomer Indonesia, Syam Basrijal mengingatkan bahwa Gen Z memiliki sikap dan cara pandang berbeda terhadap pekerjaan. Menurutnya, Gen Z menganggap pekerjaan bukan sekadar bagaimana mencari nafkah, melainkan apakah pekerjaan mereka bermakna atau tidiak.
“Mereka tetap ingin gaji yang layak, itu jelas. Tetapi setelah kebutuhan dasar terpenuhi, mereka akan menoleh kepada pertanyaan lain ; apakah pekerjaan ini membuatku berkembang, apakah lingkungan kerjaku sehat, dan apakah yang aku lakukan berdampak nyata?,” tandasnya.
Akibat nyata dari cara pandang pekerjaan semacam itu, maka Gen Z akan menolak budaya kerja yang memuliakan lembur tanpa arah. Mereka juga cenderung tidak betah di lingkungan toksik yang penuh gosip dan kekerasan verbal. Termasuk lebih memilih mencari tempat lain atau membangun usaha sendiri daripada terjebak dalam sistem yang menggerus jiwa.
“Ini bukan berarti mereka manja. Mereka hanya tidak mau mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan pribadi demi status atau gelar yang di mata generasi sebelumnya tampak istimewa,” papar Syam Basrijal.
Lebih lanjut, Syam Basrijal juga mengatakan bahwa Generasi Z tidak terlalu terkesan dengan pemimpin yang hanya mengandalkan jabatan. Mereka menghargai pemimpin yang bisa diajak diskusi tanpa membuat mereka merasa kecil. Mau mendengar gagasan, bukan hanya memberi instruksi. Mampu memberi teladan, bukan sekadar menggertak dengan wewenang.
“Mereka mencari figur pemimpin yang mirip coach atau mentor; jelas, tegas, tetapi hangat dan manusiawi. Pemimpin semacam ini tidak alergi kritik, tetapi justru menggunakannya untuk perbaikan sistem,” tuturnya.
Bahkan mereka juga terkesan tak ingin bekerja di lingkungan dan siklus yang monoton. Maka tak jarang ditemukan Gen Z yang lebih memilih menjadi wirausaha ketimbang jadi pegawai tetap dan mengharapkan dana pensiun.
Maka dari itu, dari semua penjelasan ini Syam Basrijal bisa menarik kesimpulan besar bahwa Gen Z sebenarnya bukan maniak gadget belaka, akan tetapi menjadi calon pemimpin dan penerus Indonesia yang lebih baik lagi ke depan, sepanjang ada regulasi yang jelas, serta tata kelola yang biak dari kaum Gen Z tersebut.
“Generasi Z bukan sekadar anak-anak yang kecanduan gawai. Mereka adalah calon pemimpin, pengusaha, pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua di masa depan. Mereka sedang belajar membaca dunia yang jauh lebih rumit daripada dunia yang kita hadapi di usia mereka dulu,” pungkas Syam Basrijal.












