Koma.id – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU), M. Najih Arromadloni, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai pergerakan yang memanfaatkan momentum nasional untuk menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Menurut Najih, salah satu kelompok yang patut diwaspadai adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), meskipun secara hukum telah dibubarkan pemerintah. Ia menegaskan bahwa pola gerakan HTI tidak hilang sepenuhnya, melainkan bertransformasi dalam bentuk jaringan dan kegiatan yang dibungkus dengan isu populer.
“Ada dua momentum yang biasanya dimanfaatkan HTI untuk menggerakkan massa. Pertama, saat mereka menyelipkan propaganda ideologi khilafah dalam aksi-aksi publik. Kedua, ketika memanfaatkan isu global yang sedang panas, seperti genosida di Palestina oleh Israel, untuk menarik simpati dan memperluas jangkauan pengaruh mereka,” kata Najih.
Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
Pola Pemanfaatan Momentum
Najih menjelaskan, momentum seperti peringatan hari besar nasional sering menjadi sasaran kelompok ini untuk menyusup. Dalam aksi tersebut, mereka tidak sekadar mengekspresikan pendapat, tetapi juga menyelipkan narasi yang mengarah pada delegitimasi sistem negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Isu Palestina, lanjutnya, menjadi alat yang efektif bagi kelompok tersebut untuk memicu emosi publik. Sentimen kemanusiaan dan keagamaan diarahkan agar publik melihat solusi tunggal dalam konsep khilafah versi HTI.
Imbauan untuk Masyarakat
Lakpesdam PBNU mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk cerdas dalam memilah informasi dan ajakan yang beredar di media sosial maupun lapangan.
“Kita semua harus peka. Jangan sampai kepedulian terhadap isu kemanusiaan seperti Palestina justru dimanfaatkan oleh pihak yang punya agenda mengganti ideologi negara,” tegas Najih.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan, terlebih menjelang perayaan kemerdekaan yang merupakan simbol persatuan nasional.
Menjaga Kemerdekaan dari Ancaman Ideologis
Peringatan HUT RI ke-80 bukan hanya momentum seremonial, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan yang diraih adalah hasil perjuangan bersama, tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun golongan.
Najih menutup pesannya dengan ajakan agar seluruh masyarakat mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang memperkuat persatuan, memberdayakan masyarakat, dan mengedepankan nilai-nilai Pancasila.













