Koma.id – Kelompok 17 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menghadirkan inovasi unggulan bertajuk Bolu Mangrove Penunggul (BoMaGu) dalam program kerja utama mereka di Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, selama Juli 2025.
Inovasi ini berangkat dari potensi lokal desa yang telah memiliki produk khas berupa tepung mangrove, hasil olahan UMKM setempat. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN-T 17 FPIK UB mengembangkan ide kuliner bernilai ekonomi sekaligus edukatif: olahan bolu berbasis mangrove. Terinspirasi dari kesuksesan “Bolu Lapis Tugu Malang” sebagai ikon oleh-oleh daerah, mereka melahirkan BoMaGu sebagai alternatif baru oleh-oleh khas Desa Penunggul.

Presiden Jerman Terkesan Harmoni Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
“BoMaGu tidak hanya enak dan unik, tetapi juga membawa pesan penting soal pemanfaatan mangrove yang berkelanjutan,” ujar Koordinator Desa KKN-T 17, Geralda.
Masyarakat menyambut baik inovasi ini. Produk ini dinilai tidak hanya lezat dan berbeda, tetapi juga berpeluang besar dikembangkan menjadi produk unggulan desa yang ramah lingkungan dan mendukung ekonomi lokal.
Sinergi Edukasi dan Aksi Konservasi
Tidak hanya berfokus pada inovasi pangan, mahasiswa KKN-T 17 FPIK UB juga menyelenggarakan program Mangrove Education serta kegiatan konservasi di Mangrove Penunggul Park. Bersama KKN 04 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) dan Karang Taruna Desa Penunggul, mereka melakukan penanaman 200 bibit mangrove.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antar kampus dan masyarakat dalam pelestarian lingkungan pesisir. Karang Taruna aktif mendampingi proses penanaman, mulai dari teknis lapangan, pemilihan lokasi, hingga pengawasan pertumbuhan bibit agar optimal.
“Upaya pelestarian lingkungan seperti ini akan lebih kuat jika dilakukan bersama-sama,” ujar Sekretaris Desa Penunggul, Abdul Rohmad Noloyudo. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, sembari menegaskan bahwa kegiatan ini mendukung misi desa menjadikan Penunggul sebagai destinasi wisata edukatif berbasis lingkungan.
Menuju Desa Wisata Edukatif Berbasis Mangrove
KKN-T 17 FPIK UB menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya hadir dalam bentuk program sekali jalan. Mereka membangun intervensi yang berkelanjutan, memperkuat aspek edukatif, ekologis, dan ekonomi desa.
“Kami ingin program ini memiliki dampak jangka panjang. Kami harap Desa Penunggul dapat terus mengembangkan potensi mangrovenya dan mengenang BoMaGu sebagai produk khas desa hasil kolaborasi bersama,” tambah Geralda.
Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, kegiatan ini menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat terlibat langsung dalam pembangunan desa, bukan hanya sebagai pelaksana program, tapi juga sebagai mitra masyarakat dalam merawat lingkungan dan memperkuat identitas lokal.













