Koma.id– Indonesia tengah menghadapi tantangan ekonomi serius, ditandai dengan berbagai indikator yang menunjukkan kondisi tidak stabil. Pada Selasa, 18 Maret, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga 6%, menjadikannya salah satu yang terburuk di Asia.
Ironisnya, kejatuhan ini terjadi saat indeks pasar saham di kawasan lainnya justru berada dalam tren positif.
Belasan Ribu Massa di Jember Dukung Program Strategis Prabowo, Minta MBG Tetap Dilanjutkan
Selain anjloknya IHSG, berbagai faktor lain turut memperburuk situasi. Nilai tukar rupiah terus tertekan, deflasi terjadi, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal semakin meluas.
Tidak hanya itu, penerimaan negara mengalami penurunan signifikan, sementara defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus meningkat. Seluruh indikator ini menjadi sinyal peringatan akan potensi kemunduran ekonomi yang lebih dalam.
Dalam situasi ini, berbagai pihak mulai menyuarakan kekhawatiran. Ketua Umum DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Arjuna Putra Aldino, menyoroti peringatan yang pernah disampaikan oleh Bung Karno dalam Indonesia Menggugat dan Di Bawah Bendera Revolusi, bahwa pemulihan ekonomi negara maju dapat berujung pada krisis di negara-negara berkembang.
Sementara itu, kritik terhadap kebijakan ekonomi juga datang dari berbagai pihak.
Salah satunya Pengamat politik Rocky Gerung, ia menekankan dalam 10 tahun terakhir, pembangunan infrastruktur besar-besaran, khususnya proyek jalan tol, belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan.







