Koma.id– Pernyataan Ketua Umum Golkar yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, tentang “Raja Jawa” saat Munas Partai Golkar, menyulut kontroversi di tengah masyarakat.
Guru Besar UGM, Prof. Koentjoro, mengkritik keras penyebutan “Raja Jawa” yang dianggapnya tak relevan dalam konteks negara Indonesia, yang jelas-jelas tak memiliki tradisi kerajaan.
Menurutnya, jika istilah raja digunakan, itu seperti mengakui adanya dinasti di negara yang berdiri di atas prinsip-prinsip republik.
Tak hanya akademisi, mahasiswa di berbagai daerah turut bersuara lantang, menolak konsep “Raja Jawa” dan bahkan memasang spanduk sebagai bentuk perlawanan.
Reaksi ini semakin memanas ketika pengamat politik, Rocky Gerung, ikut mengkritik Bahlil, menyebut pidatonya tidak beretika dan menuduhnya menyamakan “Raja Jawa” dengan sosok yang bengis. Ketegangan ini menjadi sorotan utama di tengah dinamika politik yang semakin rumit dan penuh intrik.













