KOMA.ID, JAKARTA – Pengamat sekaligus Praktisi Keamanan Data, Syam Basrijal menyebut, bahwa peran negara sangatlah krusial dalam memastikan pertahanan dan keamanan siber di era digital yang semakin maju.
Selain itu, negara di satu sisi juga memang memiliki tanggung jawab untuk melindungi infrastruktur kritis negara, data pribadi masyarakat, serta memastikan stabilitas dan keamanan nasional.
“Maka, peran negara sangatlah penting dalam memastikan pertahanan dan keamanan siber. Terlebih, ancaman siber yang semakin kompleks dan beragam menuntut negara untuk mengambil pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif,” terang Syam dalam keterangannya, Senin (22/7/2024).
Syam menyebut, setidaknya terdapat sejumlah peran penting yang dapat dimainkan oleh negara dalam mewujudkan pertahanan dan keamanan siber yang tangguh. Salah satunya yakni terkait regulasi dan kebijakan.
Negara, kata dia, harus mengembangkan regulasi dan kebijakan yang kuat untuk memastikan bahwa semua sektor, baik publik maupun swasta, menerapkan standar keamanan siber yang tinggi.
“Regulasi dan kebijakan ini juga termasuk dalam upaya memberikan perlindungan data pribadi, keamanan infrastruktur kritis, dan penanggulangan ancaman siber,” ujarnya.
Selain itu, Syam juga berpandangan bahwa negara harus berinvestasi dalam infrastruktur dan teknologi keamanan siber yang canggih, termasuk sistem deteksi ancaman, jaringan komunikasi yang aman, dan teknologi enkripsi untuk melindungi data sensitif.
Tak luput dari pandangan syam, produk dan Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi salah satu hal yang, dimana negara harus hadir guna memastikan produk dan SDM yang ada dapat benar-benar efektif dalam menghalau berbagai ancaman siber.
Namun dalam hal ini, Syam menekankan, bahwa negara harus mendorong penggunaan produk dan SDM lokal, bukan asing. “Ini tidak hanya membantu dalam pengembangan industri dalam negeri tetapi juga memastikan bahwa solusi yang digunakan sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal,” terangnya.
Tak cuma itu, negara juga dapat berperan aktif dalam menjalin kerjasama internasional. “Ancaman siber bersifat global, sehingga negara harus aktif berpartisipasi dalam kerjasama internasional untuk berbagi informasi, strategi, dan teknologi dalam menangani ancaman siber,” tutur Syam.
Lebih lanjut, Syam menuturkan, bahwa negara tidak hanya berperan dalam upaya penguatan pertahanan dan keamanan siber melalui pendekatan komprehensif dan kolaboratif, tetapi juga berperan dalam memberikan edukasi tentang sistem keamanan siber dan perlindungan data secara holistik dan kolaboratif.
“Edukasi siber harus menjadi prioritas untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat, termasuk individu, organisasi, dan pemerintah, memiliki pemahaman yang mendalam tentang keamanan siber,” kata Syam.
Dalam hal ini, pria yang juga seorang Marketing Director di PT TKMT menekankan, bahwa edukasi dengan pendekatan holistik dan kolaboratif harus melibatkan beberapa aspek penting.
Pertama yakni aspek kesadaran dan pelatihan, dimana negara harus menggalakkan program pelatihan dan kesadaran keamanan siber bagi seluruh masyarakat, termasuk pelatihan teknis untuk profesional IT dan edukasi umum untuk masyarakat luas mengenai praktik keamanan dasar.
Kedua yakni kolaborasi antara sektor publik, yang dalam ini pemerintah dan sektor swasta. Sebab menurut Syam, kolaborasi ini sangat penting untuk menciptakan ekosistem keamanan siber yang kuat.
“Penggunaan produk lokal dan pengembangan SDM dalam negeri harus menjadi prioritas untuk memastikan kemandirian dan keamanan yang lebih baik,” kata Syam kembali mengingatkan.
Kemudian aspek terakhir yakni soal penelitian dan pengembangan. Dimana menurutnya, negara harus mendukung penelitian dan pengembangan di bidang keamanan siber untuk menciptakan teknologi dan strategi baru yang mampu menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
“Investasi dalam R&D lokal sangat penting untuk memajukan teknologi dalam negeri,” pungkasnya.













