Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Opini

Jangan Termakan Hoaks, Ternyata 7 Habib Ini Tak Semua Terlibat Aktif Rebut Kemerdekaan

Views
×

Jangan Termakan Hoaks, Ternyata 7 Habib Ini Tak Semua Terlibat Aktif Rebut Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Jangan Termakan Hoaks, Ternyata 7 Habib Ini Tak Semua Terlibat Aktif Rebut Kemerdekaan

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sebuah konten video beredar luas di kalangan masyarakat, yakni terkait dengan adanya 7 (tujuh) nama habib yang dikatakan menjadi tokoh perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Beberapa nama tersebut mulai dari Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi hingga Habib Husein Muthahar.

Silakan gulirkan ke bawah

Lantas benarkah mereka ikut aktif sebagai pejuang kemerdekaan seperti yang disebutkan. Yuk disimak beberapa penjelasannya mengapa 7 habib ini tidak semuanya terlibat aktif dalam merebut Kemerdekaan Republik Indonesia.

1. Habib Husein Muthahar

Ia adalah salah seorang keturunan Arab Yaman yang memiliki nama lengkap Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Ahmad Al Muthahar. Lahir di Semarang pada tanggal 5 Agustus 1916 yang memiliki keterampilan dalam bermain musik. Bahkan ia merupakan seorang komposer musik yang berhasil menelurkan beberapa karya musik yang cukup terkenal.

Habib Husein Muthahar disebut-sebut menjadi bagian dari pejuang aktif perebut Kemerdekaan Indonesia. Lantas, benarkah dia ikut menjadi pejuang Kemerdekaan ?

Sebelum Indonesia Merdeka, artinya saat masih di bawah kekuasaan penjajah, Habib Husein adalah alumni Mulo B dan AMS A-1, yang merupakan sekolah era pemerintahan kolonial Belanda. Ia lulus pada tahun 1938.

Disebut-sebut, Habib Husein adalah pejuang kemerdekaan melalui karya musiknya. Sayangnya, karya musik yang dianggap menjadi representasi dari Keindonesiaan adalah Mars Hari Merdeka dan Hymne Syukur.

Sekadar diketahui, bahwa dua lagu tersebut dirilis pada tahun 1946 atau setahun pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Presiden Ir Soekarno dan Mohammad Hatta pada kala itu.

Pun demikian, pasca Kemerdekaan, ia mendapatkan posisi cukup baik di era pemerintah pasca Kemerdekaan dan pra reformasi. Dimana, lulusan jurusan hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja lulusan 1947 tersebut pernah didapuk Presiden Soekarno sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut di Ibukota Yogyakarta. Pasca ia lulus dari UGM pun sempat dipercaya sebagai Sekretaris Negara (Setneg) dan beberapa jabatan negara lainnya, termasuk pernah menjadi Duta Besar RI untuk Vatikan era 1967-1973.

Di era pemerintahan Presiden Soeharto, Habib Husein Muthahar juga pernah dipercaya menjadi Dirjen Urusan Pemuda dan Pramuka di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Dari sana, ia banyak memiliki peran besar dalam menelurkan karya-karya yang bisa dirasakan oleh masyarakat saat ini, yakni penyusunan pengibaran Bendera Pusaka, dan sebagainya.

Habib Husein Muthahar mendapatkan penghargaan yakni Bintang Gerilya dan Bintang Nahaputra. Lalu, ia pun wafat di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2004.

2. Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II

Dia merupakan pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat pada tanggal 12 Juli 1913. Ia merupakan sosok yang terkenal dengan jasanya bagi Indonesia sebagai perancang Lambang Negara Indonesia, yakni Garuda Pancasila dengan tampilan perdana.

Nama lengkapnya adalah Sayyid Syarif Abdul Hamid Al Qadri alias Sultan Hamid II. Ia pernah menjadi tentara belanda sebagai perwira KNIL dengan pangkat Letnan Dua.

Pun demikian, namanya tidak tercatat sebagai salah satu pejuang kemerdekaan. Ia hanya menjadi orang penting saat Indonesia telah diproklamirkan.

Memang, Sultan Abdul Hamid II ini menjadi orang yang cukup dipercaya oleh Bung Karno hingga diajak untuk masuk ke dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Dari perannya di Kabinet pemerintahan Soekarno – Hatta kala itu, ia melakukan tugas untuk merancang dan menggambar lambang negara, hingga lahirlah bentuk burung garuda bentukan awal lengkap dengan 5 (lima) simbol sila di depan gambar burung tersebut, dan disahkan simbolnya dalam sidang Kabinet RIS pasca dilakukan perbaikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Habib Syarif alias Sultan Hamid II wafat di Jakarta pada 30 Maret 1978 dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.