Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Opini

Jangan Termakan Hoaks, Ternyata 7 Habib Ini Tak Semua Terlibat Aktif Rebut Kemerdekaan

Views
×

Jangan Termakan Hoaks, Ternyata 7 Habib Ini Tak Semua Terlibat Aktif Rebut Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Jangan Termakan Hoaks, Ternyata 7 Habib Ini Tak Semua Terlibat Aktif Rebut Kemerdekaan

6. Habib Salim Jindan

Walaupun keturunan Yaman, ia lahir di Surabaya pada tanggal 7 September 1906. Ia merupakan putra dari Habib Ahmad bin Al Husein dan Syarrifah Muznah binti Ali.

Silakan gulirkan ke bawah

Pun tidak ikut berjuang memerdekakan Indonesia melalui jalur peperangan maupun diplomasi, ia terkanal dengan fatwanya yang anti penjajahan. Hal ini pun membuatnya tercatat pernah ditahan oleh kolonial Belanda dan pemerintah penjajahan Jepang.

Dalam perjalanan hidupnya, Habib Salim aktif sebagai pendakwah Islam kepada masyarakat di Jakarta. Hingga akhirnya ia meninggal dunia pada 1 Juni 1969.

7. Habib Ali Kwitang

Nama lengkapnya adalah Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi. Seorang pria kelahiran Batavia pada tanggal 20 April 1870. Ia lahir dari keluarga yang sudah memiliki akulturasi budaya Arab – Betawi. Dimana ayahnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi asal Yaman dan ibunya adalah wanita asal Jatinegara bernama Salmah.

Ia merupakan salah satu orang yang cukup berpengaruh pada upaya pemberontakan pada penjajah. Hal ini dilakukannya melalui jalur dakwah dengan mendirikan lembaga pendidikan Unwanul Falah Kwitang yang akhirnya sampai saat ini terkenal dengan sebutan Majelis Taklim Kwitang. Bahkan, majelis taklim ini merupakan salah satu pelopor adanya majelis taklim di Indonesia.

Dari lembaga pendidikan ini, Habib Ali selalu memberikan doktrin soal nasionalisme dan anti terhadap penjajahan. Bahkan saking terkenalnya pergerakan antipenjajah dari jalur dakwah, Bung Karno pun sampai merasa perlu mendatanginya untuk meminta petunjuk hari dan waktu pembacaan naskah Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Habib Ali Kwitang adalah pendiri partai pertama kali yang berazaskan Islam, yakni Partai Syarikat Islam.

Ia wafat di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 1968 dan dimakamkan di komplek Masjid Al-Riyadh Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.