Koma.id– Kapolda Sumatera Barat, Irjen Suharyono, memberikan klarifikasi terkait video viral yang menunjukkan polisi menginjak sajadah saat melakukan pengusiran paksa warga di Masjid Raya Sumbar. Menurutnya, polisi wanita pertama kali masuk ke tempat pertemuan di lantai 1 masjid, mengajak warga keluar, Polisi laki-laki kemudian mengikuti
Lalu tempat pertemuan di lantai 1 tidak digunakan untuk salat, melainkan sebagai ruang pertemuan dengan lantai ubin yang bersih. Lantai atas masjid memiliki karpet untuk salat. Suharyono menegaskan bahwa ia dan mayoritas jajarannya adalah umat Islam yang menghormati rumah ibadah.
“Terkait video viral anggota kami masuk ke dalam masjid menggunakan sepatu, itu tidak benar. Itu di lantai dasar tempat pendemo tidur, bukan untuk tempat salat, melainkan ruang yang disewakan untuk berbagai kegiatan, itu lantai dasar, kalau dilihat ada tikar, itu yah tempat tidur mereka,” kata Suharyono dikutip.
Suharyono menyebut bahwa warga yang sedang berdemo tidur di lantai bawah masjid, dan mereka dibawa ke dalam bus untuk menghindari kondisi yang tidak manusiawi. Kapolda Sumbar mengklaim bahwa keputusan tersebut diambil untuk mengembalikan para pendemo ke kampung halaman mereka secara humanis tanpa gangguan.
“Masyarakat tidur di lantai bawah beralaskan tikar, koran, plastik dan tikar. Mereka kami ajak karena kasihan anak-anak yang sakit, karena itu rasanya sudah tidak manusiawi, sehingga kami bawa ke dalam bus, saat ini masjid sudah bersih,” ucapnya.







