Koma.id – Anies Baswedan mengungkapkan politik identitas tak bisa dihindari dalam setiap kontestasi pemilihan umum. Bakal Calon Presiden (Bacapres) ini mengatakan bahwa dalam sebuah kontestasi politik, setiap calon yang bersaing selalu punya identitas yang melekat pada dirinya.
“Politik identitas itu adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Misalnya calon yang bersaing adalah laki-laki dan perempuan, maka di situ ada identitas gender,” papar Anies di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (17/3/2023) malam.
Heboh! Investasi Bodong Koperasi BLN Putar Dana Rp4,6 Triliun, 41 Ribu Nasabah Jadi Korban
Anies memberi contoh tentang apa yang terjadi pada Pilkada DKI 2017. Kala itu yang bersaing adalah paslon dengan latar belakang beda agama. Anies berpasangan dengan Sandiaga Uno melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat.
“Yang terjadi pada 2017, calon yang bersaing agamanya berbeda. Maka identitasnya yang terlihat adalah agama. Itu akan terus terjadi selama calonnya punya identitas berbeda, baik gender, suku, maupun agama,” lanjut Anies.
Anies pun mengajak seluruh simpatisan di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya, terus mengawal kelancaran jalannya setiap agenda persiapan hingga pelaksanaan Pemilu 2024.
“Semua menyongsong pemilu dengan luar biasa dan dengan penuh harapan,” kata Anies
Tak itu saja, kata Anies, pemilu juga harus dibarengi munculnya suasana suka cita, sebab dinamika pada agenda politik menjadi langkah menentukan masa depan bangsa di masa depan.
“Ini kesempatan bagi rakyat untuk menunjukkan sikap,” ujarnya.
Hal ini pun dikomentari oleh pengurus cabang istimewa NU Amerika Serikat, Akhmad Sahal menanggapi pernyataan Anies soal politik identitas. Menurutnya, Anies tak segan memainkan “politik ayat dan mayat”.
“Ia pake politisasi agama utk bisa menang pilpres. Meski akibatnya NKRI terbelah terpecah, dia ga peduli. Anies mencitrakan diri sbg toleran pluralis. Pdhl sejatinya dia perobek tenun kebangsaan,” kata Sahal di akun Twitternya, Sabtu (18/3/2023).
Menurut dia, agenda tahun politik tidak sepatutnya dibalut dengan nuansa kegaduhan, sebab antusiasme masyarakat harus diimbangi dengan nuansa guyub, terutama dari elemen Koalisi Kebangsaan.













