Koma.id – Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah meminta seluruh masyarakat Aceh tetap menjaga perdamaian yang telah terbangun selama 21 tahun sejak penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Pesan tersebut disampaikan menyusul kericuhan yang terjadi dalam rangkaian peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Fadhlullah menilai momentum peringatan Hari Damai Aceh seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan stabilitas dan keamanan di Aceh.
“Pesan kepada seluruh masyarakat Aceh, mari kita jaga kedamaian, perdamaian berkelanjutan, tidak ada keuntungan dalam keributan,” kata Fadhlullah, dikutip Minggu (16/8/2026).
Gempa Susulan di NTT Capai 7.492 Kejadian
Pernyataan tersebut disampaikan setelah rangkaian peringatan Hari Damai Aceh yang semula diisi agenda zikir dan doa bersama berubah menjadi kericuhan.
Kericuhan terjadi setelah sejumlah massa mengibarkan bendera bulan bintang di kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Upaya aparat untuk menghentikan pengibaran bendera tersebut kemudian memicu ketegangan antara massa dan aparat.
ZERO CURANMOR & ZERO WASTE! Bang Jali Bongkar Pilar 3 dan 4 di Hadapan Juri Jakarta Innovation Award
Di tengah situasi tersebut, Fadhlullah meminta seluruh pihak menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang berpotensi mengganggu perdamaian yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.
Menurut dia, perjalanan perdamaian Aceh selama 21 tahun merupakan capaian yang harus dijaga bersama. Perdamaian tersebut lahir setelah konflik panjang yang menimbulkan korban dan penderitaan bagi masyarakat Aceh.
Pesan Fadhlullah sejalan dengan sikapnya sebelumnya mengenai pentingnya komitmen masyarakat Aceh dalam mempertahankan perdamaian. Ia menyebut keteguhan masyarakat Aceh memegang komitmen menjadi salah satu faktor yang membuat perdamaian dapat bertahan selama dua dekade.
Fadhlullah juga pernah menegaskan bahwa pengalaman konflik menunjukkan tidak ada pihak yang benar-benar memperoleh keuntungan dari peperangan. Menurutnya, yang tersisa dari konflik adalah kerugian dan penderitaan, sehingga perdamaian menjadi jalan bersama untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik.
“Tidak ada kemenangan dalam peperangan, tidak ada ketenangan dalam peperangan, yang ada hanya kerugian dan penderitaan bagi semua. Karena itu, perdamaian adalah satu-satunya cara untuk menghadirkan kemenangan bagi semua,” ujar Fadhlullah.
Karena itu, momentum 21 tahun perdamaian Aceh diharapkan tidak kembali diwarnai tindakan yang dapat memicu konflik. Seluruh elemen masyarakat diminta menjaga situasi tetap kondusif dan menyelesaikan setiap persoalan melalui jalur yang damai.
Pemerintah Aceh sebelumnya juga menempatkan peringatan Hari Damai Aceh sebagai momentum untuk memperkuat semangat saling menghormati, menjauhi kekerasan, menjunjung hukum dan adat, serta menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran untuk membangun Aceh.
Dengan demikian, kericuhan yang terjadi dalam peringatan tahun ini tidak seharusnya menghilangkan pesan utama dari peringatan 21 tahun MoU Helsinki, yakni menjaga perdamaian sebagai modal penting bagi masa depan Aceh.














