KOMA.ID, JAKARTA – Dunia musik rock Indonesia berduka. Bassis PAS Band, Bambang Sutrisno atau yang akrab disapa Trisno, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 14.29–14.30 WIB di RS Hermina Bandung, Jawa Barat, dalam usia 55 tahun.
Kabar duka tersebut pertama kali disampaikan drummer PAS Band, Sandy Andarusman, melalui media sosial dan kemudian dikonfirmasi kepada sejumlah media.
Jenazah Trisno disemayamkan di kediamannya di Bandung dan dijadwalkan dimakamkan pada Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikutra, Bandung.
Sempat Dirawat Intensif
Sebelum meninggal, Trisno menjalani perawatan intensif akibat gagal ginjal stadium lanjut. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan fungsi ginjalnya tinggal sekitar 5 persen, sehingga ia harus menjalani cuci darah secara rutin.
Selain itu, tim medis juga menemukan dua penyumbatan pembuluh darah di otak yang berisiko memicu stroke dan sempat melakukan tindakan operasi. Pascaoperasi, kondisinya sempat mengalami kejang-kejang dan terus mendapat pengawasan intensif.
Menurut Sandy, penurunan kondisi kesehatan Trisno sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Rekan-rekannya melihat gejala seperti kaki membengkak, tubuh semakin kurus, hingga indikasi gangguan liver dan tekanan darah tinggi. Namun, Trisno dikenal enggan memeriksakan kesehatannya ke dokter.
Kondisi Terakhir Sebelum Wafat
Sandy mengungkapkan, sekitar dua pekan sebelum meninggal dunia, Trisno mengeluhkan sakit kepala dan kondisinya terus menurun.
Setelah dibujuk oleh keluarga dan rekan-rekan PAS Band, ia akhirnya bersedia menjalani pemeriksaan di rumah sakit.
Hasil diagnosis menunjukkan gagal ginjal yang sudah sangat berat serta penyumbatan pembuluh darah di kepala.
Meski sempat menjalani operasi dan dirawat di ICU, kondisi Trisno terus naik turun hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Sabtu siang.
Sandy: Kehilangan Sosok yang Jujur
Kepergian Trisno meninggalkan duka mendalam bagi personel PAS Band. Sandy mengaku masih tidak percaya harus kehilangan sahabat yang telah menemaninya bermusik selama puluhan tahun.
Dalam keterangannya kepada media, Sandy mengenang Trisno sebagai pribadi yang sederhana dan jujur. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengatakan,
“Bro itu orangnya jujur,” saat menceritakan hari-hari terakhir sahabatnya.
Sebelum Trisno wafat, Sandy bersama sejumlah musisi juga sempat menggalang doa dan bantuan biaya pengobatan. Banyak musisi, termasuk Armand Maulana, Thomas Ramdhan, Eno NTRL, hingga komunitas musik Indonesia, menyampaikan doa dan dukungan selama Trisno menjalani perawatan.
Salah Satu Pendiri PAS Band
Trisno merupakan salah satu personel pendiri PAS Band yang berperan besar dalam perkembangan musik rock alternatif Indonesia sejak era 1990-an.
Bersama Yukie, Bengbeng, dan Richard Mutter, ia turut melahirkan berbagai lagu yang menjadi penanda perjalanan PAS Band, seperti Jengah, Permata Yang Hilang, Aku, dan Malam Tetaplah Malam.










