Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Presiden Prabowo Ingatkan Bahaya Ketergantungan Impor Pangan

×

Presiden Prabowo Ingatkan Bahaya Ketergantungan Impor Pangan

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Ingatkan Bahaya Ketergantungan Impor Pangan
Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1). (Foto/BPMI Setpres)

Koma.id Presiden Prabowo Subianto mengingatkan publik akan bahaya ketergantungan impor pangan di tengah konflik global yang terus bergejolak. Menurutnya, ketahanan pasokan pangan nasional dapat terancam apabila Indonesia terlalu bergantung pada impor dari negara-negara yang sedang dilanda ketegangan geopolitik.

Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memimpin retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1).

Silakan gulirkan ke bawah

Dalam paparannya, Presiden Prabowo menyinggung konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja. Ia mengingatkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya Indonesia kerap mengimpor beras dari kedua negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Namun, konflik berkepanjangan di antara keduanya dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok pangan jika ketergantungan impor terus berlanjut.

“Sekarang, Thailand dan Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, kemudian meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?” ujar Presiden.

Selain konflik geopolitik, Presiden Prabowo juga mengingatkan pengalaman pahit saat pandemi COVID-19, ketika sejumlah negara pengekspor pangan menutup keran ekspor demi mengamankan kebutuhan domestik masing-masing. Situasi tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia, kesulitan mendapatkan pasokan pangan meskipun memiliki kemampuan finansial.

Menurut Presiden Prabowo, kondisi itu menjadi pelajaran penting bahwa ketergantungan impor merupakan risiko strategis bagi kedaulatan bangsa.

Oleh karena itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kebijakan swasembada pangan yang saat ini dijalankan pemerintah merupakan langkah yang sangat tepat dan relevan untuk menghadapi ketidakpastian global. Ia menyebut swasembada pangan sebagai bagian utama dari Strategi Transformasi Nasional yang disusun secara tertulis, terukur, dan berdasarkan kajian jangka panjang.

“Bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdikari, dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyat,” tegas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia kini telah mampu menghindari risiko tersebut setelah berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun lalu. Keberhasilan itu, kata dia, tercermin dari cadangan beras pemerintah yang mencapai kisaran 3 juta ton per 31 Desember 2025.

“Dan saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Indonesia,” tutup Presiden Prabowo.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.