Koma.id | Banjarbaru – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, dinilai terkendali hingga 80 persen. Intensitas kebakaran dan kabut asap menurun signifikan setelah pengerahan sumber daya secara masif.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurafiq menyampaikan hasil tinjauan lapangan pada.
“Kita menyimpulkan karhutla di kawasan ring satu bandara cukup terkendali hingga 80 persen. Memang kebakaran dan kabut asap masih terjadi, tetapi frekuensinya sudah jauh berkurang,” ujarnya. Sabtu (12/09).
Strategi Penanganan
- Zona Guntung Damar dan Liang Anggang: memanfaatkan embung, kanal, dan saluran irigasi Riam Kanan untuk pembasahan lahan gambut, didukung ratusan pompa air dan water bombing.
- Zona Pengayuan Landasan Ulin: pemadaman dengan mobil tangki dan pengeboman air dari udara karena keterbatasan sumber air.
- Kanal blocking: pembangunan puluhan kilometer kanal dengan anggaran Rp9 miliar serta empat sumur bor untuk menjaga kelembaban lahan.
Dalam upaya pembasahan, petugas bahkan menjebol Embung Jokowi untuk mengalirkan air ke kawasan gambut kritis.
Hanif menekankan pentingnya mitigasi permanen karena kondisi gambut rusak memicu kebakaran berulang. Ia menyarankan penggunaan larutan surfaktan sebagai solusi di tengah keterbatasan air.
“Pengerahan satgas darat secara masif terbukti lebih efektif memadamkan titik api di permukaan maupun bawah gambut,” tegasnya.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fatimatuzahra, menambahkan fokus utama saat ini adalah menjaga Hutan Lindung Liang Anggang seluas 953 hektare. Titik api tersisa berada di luar kawasan hutan lindung.
BPBD Kalsel mencatat sepanjang 1 Januari–10 September 2026 terjadi 2.963 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 20 ribu hektare. Kepala BWS III Kalimantan, Sandi Erryanto, menyebut pihaknya tengah merumuskan pola pembasahan permanen, termasuk pembenahan drainase dan kolam regulasi, untuk memastikan kawasan bandara tetap aman dari ancaman asap.









