Koma.id | Flores – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menutup Operasi SAR gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (12/09) pukul 18.00 WITA. Penutupan dilakukan bersamaan dengan berakhirnya masa tanggap darurat bencana yang diperpanjang hingga 12 September.
Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, menyampaikan bahwa keputusan penutupan operasi diambil setelah mempertimbangkan kondisi lapangan, termasuk menurunnya aktivitas gempa susulan dan bergesernya fase penanganan dari tanggap darurat menuju transisi pemulihan.
“Operasi SAR Gempa 7,7 SR resmi ditutup hari ini, bersamaan dengan berakhirnya masa tanggap darurat,” ujarnya mewakili Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii.
Operasi SAR telah berlangsung sejak gempa kuat mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Tim gabungan yang terdiri atas Basarnas, TNI-Polri, pemerintah daerah, PMI, relawan, serta berbagai potensi SAR dikerahkan untuk melakukan pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban di wilayah terdampak. Basarnas juga mengerahkan helikopter Dauphin untuk mendukung evakuasi medis dan mobilisasi personel di lokasi yang sulit dijangkau.
Fathur menegaskan bahwa meski operasi resmi ditutup, pintu pencarian tetap terbuka apabila muncul informasi baru mengenai korban atau permintaan evakuasi.
“Apabila di kemudian hari terdapat permintaan evakuasi maupun penemuan korban, maka Operasi SAR Gempa Flores akan dibuka kembali sesuai kebutuhan,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas sinergi seluruh unsur SAR yang terlibat.
“Sinergi Tim SAR Gabungan menjadi wujud nyata bersatunya seluruh unsur dalam misi kemanusiaan,” tandasnya.
Gempa M7,7 dengan pusat di sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. BNPB mencatat sepanjang operasi, tidak ada lagi laporan warga hilang sejak hari ketiga pascagempa, meski personel tetap melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada warga yang membutuhkan pertolongan.
Operasi SAR melibatkan ribuan personel gabungan, termasuk 63 personel Basarnas dan 1.799 personel dari potensi SAR lainnya. Pemerintah kini mengalihkan fokus ke tahap pemulihan, dengan pengerahan rumah sakit lapangan di Manggarai dan Nagekeo, pemulihan jaringan listrik di Flores Barat dan Timur, serta perbaikan telekomunikasi yang telah mencapai 95,4 persen.
Dengan berakhirnya operasi SAR, penanganan gempa Flores kini bergeser pada pemulihan masyarakat, infrastruktur, dan layanan publik. Pemerintah menegaskan komitmen untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi dan proses rehabilitasi berjalan maksimal.









