Koma.id | Lembata – Langit malam di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali dihiasi pancaran merah lava pijar dari puncak Gunung Ili Lewotolok, Minggu (27/09). Di tengah suasana malam yang gelap, aliran lava terlihat meluncur perlahan dari kawah menuju lereng tenggara gunung, mengingatkan warga bahwa aktivitas vulkanik masih terus berlangsung.
Berdasarkan pengamatan petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ili Lewotolok, lava pijar teramati meluncur hingga sekitar 600 meter dari bibir kawah ke arah sektor tenggara gunung.
Arah luncuran tersebut mencakup wilayah yang mengarah ke Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape, serta Desa Baopukang, Kecamatan Ile Ape Timur. Meski belum mengancam langsung permukiman warga, fenomena itu membuat masyarakat di sekitar kawasan gunung meningkatkan kewaspadaan.
Dari kejauhan, cahaya merah lava pijar tampak jelas membelah lereng gunung. Bagi warga yang telah lama hidup berdampingan dengan Gunung Ili Lewotolok, pemandangan tersebut bukan hal baru. Namun setiap peningkatan aktivitas gunung tetap menimbulkan rasa waspada.
Saat ini status Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada. Otoritas vulkanologi mengimbau masyarakat, pendaki, maupun pengunjung agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi atau kawah aktif.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan untuk menghindari risiko dari lontaran material vulkanik maupun potensi peningkatan aktivitas gunung yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Hingga malam ini, sebagian besar warga di kawasan kaki gunung dilaporkan masih bertahan di kampung masing-masing. Meski demikian, mereka terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik dan mengikuti informasi dari petugas pemantauan gunung api.
Sementara itu, petugas Pos PGA bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Gunung Ili Lewotolok. Pengamatan dilakukan untuk mendeteksi setiap perubahan yang berpotensi memengaruhi keselamatan masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Bagi warga Lembata, Gunung Ili Lewotolok bukan sekadar bentang alam yang menjulang di tengah pulau. Gunung itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap semburan abu, gemuruh, maupun aliran lava pijar selalu disikapi dengan kewaspadaan, sembari berharap aktivitas gunung tetap terkendali dan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar bagi permukiman warga.









