KOMA.ID, JAKARTA – Musisi asal Bali sekaligus gitaris grup band Gigi, I Dewa Gede Budjana atau Dewa Budjana ikut memberikan pendapatnya soal kegaduhan musik Jazz antara Indra Lesmana dengan founder Pramanan Jazz Festival Anas Syahrul Alimi.
Menurutnya, apa yang disampaikan Indra Lesmana pun ada benarnya. Di mana sebuah pentas musik dengan judul Jazz harus diisi performance oleh musisi Jazz, bukan dicampur aduk dengan musik Pop.
SP3 Diterbitkan, Kasus Ruben Onsu Ditutup
“Sebagai musisi saya sangat setuju dengan pendapat Indra. Karena semakin banyak festival jazz yang menampilkan line up yang bukan jazz, padahal progres musisi jazz semakin banyak di negeri ini,” kata Dewa Budjana dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Minggu (27/7/2025).
Pun jika harus menampilkan musik Pop, setidaknya porsinya pun dibuat berimbang tanpa mendegradasi musik jazz yang sedang perform.
“Dengan melihat langsung Jazz Camp yang dibuat oleh temen-temen musisi, terlihat banyak banget musisi-musisi bagus dari generasi muda yang muncul, harusnya festival-festival tetap prioritas ke penampil Jazz-nya atau berimbang,” tuturnya.
Sebagai musisi yang tahu bagaimana seluk beluk Indra Lesmana dalam belantika musik Jazz tanah air, Dewa pun mengaku sedih ketika banyak netizen ikut berkomentar ngawur soal Indra Lesmana, khususnya dalam kapasitasnya memberikan reaksi atas pentas musik Prambanan Jazz yang digarap oleh Anas Syahrul Alimi.
“Yang saya kaget adalah banyaknya komen komen netizen yang tidak tau peran Indra Lesmana dalam skena Jazz tanah air, atau bahkan dunia dengan komen yang kurang pas,” tukas Dewa.
Oleh sebab itu, ia berharap perdebatan tersebut segera disudahi. Dalam konteks komentar, Indra Lesmana dianggap sangat tepat dan sesuai dengan kapasitasnya sebagai musisi Jazz Indonesia. Sementara untuk Anas, ia ingin agar promotor musik tersebut bisa memberikan porsi yang lebih terhadap musisi Jazz, khususnya sebagai line up.
“Saran saya buat Mas Anas, tinggal menambah porsi musisi Jazz-nya lebih berimbang, dan beberapa nama Pop yang masih mungkin bisa tampil dengan format Jazz, tidak harus memaksakan kelompok yang sangat jauh secara style personilnya,” ujar Dewa Budjana.
“Dan bisa menampilkan beberapa yang bukan Jazz dengan even yang berlainan,” sambungnya.
Jika pun tetap ingin ngotot menampilkan musisi non-Jazz, Dewa pun berharap agar panggungnya bukan bertemakan Jazz. Terlebih ia melihat agenda Prambanan Jazz Festival tahun 2026 banyak juga menampilkan musisi yang tidak ada kaitannya dengan jazz.
“Saya juga melihat whislist 2026 di akun Prambanan Jazz yang mayoritas lebih ke penampil yang bukan Jazz sama sekali, artinya pe-er buat para promotor untuk tetap berfikir bagaimana membuat antara tema dan pasar yang balance, hingga nama Jazz tidak terselewengkan,” pungkasnya.
Indra Lesmana Kritik Festival Jazz
Sebuah tulisan dari Indra Lesmana sempat membuat heboh belantika musik tanah air. Pasalnya, ia memberikan kritikan atas kegiatan festival musik jazz yang justru menghilangkan nyawa dari genre jazz sendiri dalam panggung musik tersebut.
“Semakin sedikit musisi jazz tampil di festival jazz. Tanpa jazz, festival jazz kehilangan nyawa,” tulis Indra Lesmana.
Ia memperingatkan kepada para promotor musik agar benar-benar menjaga nuansa jazz di dalam panggung yang mereka garap. Sehingga jazz tetap menjadi musik yang identik dan khas tanpa harus dibenturkan dengan genre musik lainnya.
“Festival jazz harus teruasa seperti jazz. Dan kita tidak butuh lebih banyak festival yang hanya mengejar angka. Kita butuh festival yang berani, festival yang memberi ruang bagi seniman untuk benapas, dan memberi kesempatan bagi penonton untuk merasakan sesuatu yang lebih mendalam,” lanjutnya.









