Koma.id – Alhamdulillah di tengah situasi yang terdampak akibat krisis yang terjadi bahkan kita tahu di beberapa negara terancam gagal dan Indonesia masih dalam posisi seperti ini. Semua ini bisa terjadi karena kuncinya kita mau bersatu.
Jadi kalau dulu musuh kita adalah penjajah, saat ini dan kedepan musuh kita adalah bagaimana kita bisa bersatu untuk menghadapi ketidakpastian, untuk menghadapi situasi global.
Hal ini diungkapkan Kapolri Jenderal Polisi, Listyo Sigit Prabowo saat menghadiri acara launching ‘Rumah Kebangsaan’ di Jalan Hang Lekir, Jakarta Selatan, Senin (27/6/2022).
Kapolri Tanggapi Seruan Reformasi Jilid II, Minta Mahasiswa Sampaikan Aspirasi Secara Tertib
“Terima kasih untuk ide-ide yang ada di Rumah Kebangsaan, kalau kita liat bagaimana perkembangan inflasi yang terjadi di dunia dibandingkan dengan Indonesia, bagaimana lompatan terhadap inflasi tersebut menempatkan Turki lonjakan tinggi sekali dari 48,7% menjadi 69,97%, Amerika dari 7,5% jadi 8,3%, Jerman dari 4,9% jadi 7,4, indonesia saat ini kita masih bisa bertahan di 3,47%,” katanya.
“Ini tentunya bukan kebetulan, ini tentunya berkat kerja keras, semangat kita bagaimana bisa menjaga dan mempertahankan,” sambungnya.
Sebagaimana ditegaskan Kapolri, penjelasan tersebut untuk merespons fenomena bonus demografi di tahun 236 mendatang. Dimana Jika bonus demografi betul-betul dikelola dengan baik maka Indonesia memiliki landasan untuk melompat jadi negara maju.
Saat ini, kata Kapolri,Indonesia sedang berjuang untuk bisa lepas dari negara middle incompreheat dengan pendapatan per kapita 5000 dolar, harapannya agar Indonesia bisa melompat bisa berada di 15000 dolar per kapita atau kurang lebih di 343 juta per tahun.
“Ini tentunya menjadi tantangan bersama. kalau dulu kita menganggap hal ini yang biasa-biasa saja, tapi saat ini kita sedang menghadapi situasi yang tidak pasti setelah perang Rusia-ukraina, setelah pandemi covid, kita sekarang masuk kepada situasi yang sangat sulit karena ada perang Rusia dan Ukraina,” katanya.
“Dampaknya sekarang sudah mulai kita rasakan bagaimana negara-negara mengalami krisis, baik krisis pangan maupun krisis energi. Karena demikian memang rusia dan ukraina adalah salah satu penghasil utama terkait dengan kebutuhan komsumsi pangan dann kebutuhan energi, sehingga berdampak kepada negara-negara lain termasuk indonesia,” katanya.
“Justru saatnya kita kalau kita bisa mempertahankan persatuan dan kesatuan, kita bisa kompak menghadapi situasi ketidakpastian, menghadapi krisis global, maka kita akan melompat maju menjadi negara yang berada di atas atau mungkin sekarang seimbang dengan negara-negara besar di dunia, dan itu tentunya kuncinya adalah persatuan dan kesatuan,” tegasnya.













