Koma.id | Yogyakarta – Ratusan abdi dalem dan warga mengikuti tradisi Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, Rabu (17/06). Ritual ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa 1 Sura Tahun Be 1960.
Sebelum berjalan kaki mengelilingi benteng keraton, para peserta menjalani prosesi macapat yang berisi doa-doa penutup tahun, doa menyambut tahun baru, serta doa khusus bulan Suro. Prosesi ini dianggap sakral dan wajib sebagai pembuka ritual.
Tradisi Mubeng Beteng dilakukan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 4–5 kilometer mengelilingi benteng keraton. Rute perjalanan meliputi Keben, Ngabean, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, dan kembali ke Keben.
Peserta berjalan tanpa alas kaki dan tanpa berbicara, sebagai simbol tapa bisu. Keheningan ini dimaknai sebagai laku spiritual untuk refleksi, kontemplasi, dan pembersihan diri dalam menyambut tahun baru Jawa.
Menurut tradisi Jawa, Mubeng Beteng bukan sekadar ritual berjalan, melainkan latihan batin untuk menahan diri, mendengarkan suara hati, dan menyadari kedekatan manusia dengan bumi. Filosofi “eling lan waspada” menjadi inti dari ritual ini: mengingat asal-usul dan tujuan hidup, serta senantiasa waspada terhadap tanda-tanda alam.
Raih 248 Suara Ni’matul Hanik Terpilih Ketua Muslimat Jepara 2026-2031; Fokus Pembenahan Organisasi.
Tradisi ini terbuka bagi siapa saja, tidak hanya abdi dalem keraton. Syaratnya sederhana: berjalan dalam diam dan tanpa alas kaki. Kesederhanaan aturan ini diyakini menyimpan pelajaran besar tentang introspeksi dan kerendahan hati.
Rute mengelilingi benteng melambangkan siklus kehidupan atau cakra manggilingan. Benteng dipandang bukan sekadar tembok batu, melainkan simbol perlindungan batin dari pengaruh buruk luar.








