Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Kesehatan

8 Cara Hadapi Abu Vulkanik, Nomor 5 Paling Penting

×

8 Cara Hadapi Abu Vulkanik, Nomor 5 Paling Penting

Sebarkan artikel ini
Debu Vulkanik Koma
Penampakan debu vulkanik dari Anak Gunung Krakatau yang menempel di kendaraan. [Foto : Koma.id]

KOMA.ID, JAKARTA — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menjadi perhatian setelah sebaran abu vulkanik terpantau mencapai sejumlah wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) menyebut hasil analisis citra satelit menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Kondisi ini membuat masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel halusnya dapat mengiritasi mata, kulit, hidung, tenggorokan, serta mengganggu sistem pernapasan.

Silakan gulirkan ke bawah

Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah sederhana namun penting untuk mengurangi paparan abu vulkanik, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Abu vulkanik merupakan material sangat halus yang terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik akibat aktivitas erupsi. Partikel tersebut dapat terbawa angin dalam jarak yang jauh.

Cara Menghadapi Abu Vulkanik

Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, mata terasa perih atau berair, serta memperburuk gangguan pernapasan tertentu. Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa dampak erupsi gunung api terhadap kesehatan antara lain dapat berupa ISPA, gangguan saluran pernapasan, serta iritasi mata dan kulit.

Risiko tersebut perlu menjadi perhatian lebih bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung. Paparan abu dan gas vulkanik dapat memperburuk kondisi kesehatan kelompok rentan.

1. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Langkah paling sederhana adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika abu vulkanik sedang berada di udara.

Jika tidak ada kebutuhan mendesak, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Kementerian Kesehatan sebelumnya juga mengimbau masyarakat agar tidak banyak keluar rumah ketika terjadi hujan abu vulkanik.

Bagi mereka yang bekerja atau beraktivitas di luar ruangan, pantau informasi terbaru dari BMKG, PVMBG, pemerintah daerah, dan instansi terkait sebelum bepergian.

Jangan menganggap abu yang terlihat tipis sebagai kondisi yang otomatis aman. Konsentrasi partikel di udara dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

2. Gunakan Masker yang Tepat

Jika terpaksa keluar rumah ketika terdapat paparan abu, gunakan masker atau respirator partikulat yang memberikan perlindungan lebih baik.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Badan Kesehatan Federal Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH untuk melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik ketika berada di luar ruangan maupun saat membersihkan abu. Respirator harus terpasang rapat pada wajah agar efektif.

Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel halus abu vulkanik.

Yang juga penting, jangan sekadar mengenakan N95 tanpa memperhatikan kerapatan pemasangan. Jika terdapat celah besar antara masker dan wajah, perlindungannya dapat berkurang.

Bagi orang dengan penyakit jantung atau paru, penggunaan respirator dapat terasa lebih berat untuk bernapas. Jika memiliki kondisi tersebut, pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai perlindungan pernapasan yang sesuai.

3. Lindungi Mata

Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi mata.

Karena itu, apabila harus berada di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung atau goggles. Hindari mengucek mata apabila terkena abu.

Penggunaan lensa kontak juga sebaiknya dihindari ketika terjadi paparan abu. Panduan Kementerian Kesehatan mengenai hujan abu gunung api mengingatkan bahwa lensa kontak dapat meningkatkan risiko masalah pada kornea ketika mata terpapar abu.

Jika mata terasa perih setelah terpapar abu, segera bilas dengan air bersih dan hindari menggosoknya.

4. Tutup Pintu dan Jendela

Rumah sebaiknya menjadi tempat perlindungan utama selama paparan abu berlangsung.

Tutup pintu dan jendela rapat-rapat agar abu dari luar tidak masuk ke dalam ruangan. CDC juga merekomendasikan menutup akses udara dari luar serta mematikan kipas dan sistem pendingin udara yang menarik udara dari luar ketika abu sedang turun.

Jika menggunakan sistem penyaring udara, pastikan filternya sesuai dan dirawat secara berkala.

Prinsipnya sederhana: semakin sedikit abu yang masuk ke dalam rumah, semakin kecil pula paparan yang diterima penghuni.

5. Jangan Sembarangan Membersihkan Abu

Abu yang sudah mengendap di halaman, kendaraan, balkon, atau atap bukan berarti tidak berbahaya.

Jangan menyapu abu vulkanik secara kering karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.

Saat membersihkan, gunakan perlindungan pernapasan yang memadai, kacamata pelindung, pakaian tertutup, serta lakukan secara hati-hati.

Untuk abu yang menumpuk di atap, kewaspadaan harus ditingkatkan. Abu vulkanik dapat menjadi sangat berat ketika bercampur dengan air. Penumpukan dalam jumlah besar dapat membebani struktur bangunan. CDC mengingatkan agar pembersihan atap dilakukan dengan sangat hati-hati karena abu juga dapat membuat permukaan menjadi licin.

6. Hati-Hati Saat Berkendara

Abu vulkanik dapat menurunkan jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.

Karena itu, apabila harus berkendara, kurangi kecepatan dan tingkatkan jarak aman dengan kendaraan lain.

Dalam kondisi abu cukup tebal, sebaiknya perjalanan ditunda jika tidak mendesak. Selain berisiko terhadap keselamatan, abu yang terisap kendaraan dapat mengganggu mesin dan sistem kendaraan. CDC bahkan menyarankan menghindari berkendara ketika hujan abu berat.

Jika terpaksa berkendara, tutup seluruh jendela kendaraan dan hindari menggunakan sistem pendingin udara yang mengambil udara dari luar.

7. Jaga Air dan Makanan

Abu vulkanik juga perlu dijauhkan dari sumber air dan makanan.

Tutup tempat penampungan air, terutama wadah yang berada di luar rumah. Jika air terkena abu dan terlihat keruh, jangan langsung digunakan untuk konsumsi.

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat mengamankan sarana air bersih dan menutup tempat penampungan air dari paparan abu. Makanan, buah, dan sayuran yang terkena abu juga harus dibersihkan dengan baik sebelum dikonsumsi.

8. Kenali Gejala yang Harus Diwaspadai

Jangan abaikan gangguan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik.

Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain:

  • batuk terus-menerus;
  • tenggorokan terasa perih;
  • hidung atau saluran pernapasan teriritasi;
  • mata merah, perih atau berair;
  • sesak napas;
  • napas terasa berat;
  • iritasi kulit;
  • keluhan penyakit pernapasan yang sebelumnya sudah dimiliki menjadi lebih buruk.

Jika mengalami sesak napas berat, gangguan pernapasan yang tidak membaik, atau kondisi kesehatan memburuk, segera cari pertolongan medis.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit jantung atau paru perlu mendapat perhatian lebih selama kualitas udara memburuk.

Jangan Panik, Tapi Jangan Meremehkan

Yang tidak kalah penting adalah tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

BMKG mengintensifkan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Masyarakat dianjurkan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi pemerintah.

BMKG juga menyediakan informasi mengenai sebaran abu vulkanik berdasarkan analisis satelit dan informasi aktivitas gunung api dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin.

Bagi masyarakat yang berada di sekitar Selat Sunda, kewaspadaan tidak hanya berkaitan dengan abu. BMKG sebelumnya juga mengingatkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau memiliki potensi bahaya lain, termasuk guguran material ke laut yang dalam kondisi tertentu dapat memicu tsunami nontektonik. Karena itu, masyarakat pesisir harus mengikuti rekomendasi resmi dan tidak mendekati zona yang dilarang.

Abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu biasa, tetapi paparan berlebihan dapat mengganggu kesehatan. Cara terbaik menghadapinya bukan dengan panik, melainkan dengan mengurangi paparan.

Kurangi aktivitas di luar rumah, gunakan N95 bila harus keluar, lindungi mata, tutup pintu dan jendela, jaga air serta makanan tetap bersih, berhati-hati saat berkendara dan membersihkan abu, serta segera mencari pertolongan medis jika muncul gangguan pernapasan.

Dan yang terpenting, ikuti informasi resmi BMKG, PVMBG, BNPB/BPBD, Kementerian Kesehatan, serta pemerintah daerah. Kondisi sebaran abu dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi dan arah angin, sehingga panduan keselamatan harus selalu disesuaikan dengan pembaruan terbaru.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.