Koma.id | Jakarta – Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis memang menjadi salah satu langkah menjaga kadar gula darah. Namun, kadar glukosa tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak gula yang dikonsumsi. Pola makan secara keseluruhan, komposisi nutrisi, aktivitas fisik, kondisi metabolisme, hingga faktor medis turut berperan.
Faktor Nutrisi yang Berpengaruh
Perubahan Desil Ancam Akses Beasiswa KIP
- Protein: membantu mengendalikan lonjakan gula darah setelah makan dengan memperlambat pengosongan lambung.
- Serat: memperlambat penyerapan glukosa, terutama serat larut dari buah utuh dan sayuran.
- Lemak sehat: omega-3 dari ikan berlemak dan kacang kenari mendukung metabolisme dan mengurangi peradangan ringan yang berkaitan dengan resistensi insulin.
- Magnesium: berperan dalam metabolisme glukosa, ditemukan pada sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
- Zat besi: kekurangan zat besi dapat memengaruhi hasil pemeriksaan HbA1c sehingga tampak lebih tinggi.
Viral Seruan Boikot Mandiri
Penyebab Lain Gula Darah Naik
- Karbohidrat olahan: roti putih, nasi putih, pasta, dan minuman manis memicu lonjakan glukosa cepat.
- Kurang aktivitas fisik: otot tidak menggunakan glukosa sehingga kadar tetap tinggi.
- Stres: hormon kortisol dan adrenalin meningkatkan pelepasan glukosa ke darah.
- Kurang tidur: menurunkan sensitivitas insulin dan mengganggu metabolisme glukosa.
- Dehidrasi: membuat konsentrasi glukosa dalam darah lebih pekat.
- Obat-obatan tertentu: steroid, diuretik, dan antidepresan dapat meningkatkan kadar glukosa.
Kondisi Medis yang Memicu Lonjakan
- Infeksi dan peradangan: tubuh melepaskan hormon stres yang meningkatkan produksi glukosa.
- Gangguan hormonal: PCOS atau sindrom Cushing dapat memicu resistensi insulin.









