Koma.id | Jakarta – Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin seiring penurunan tajam harga minyak mentah setelah meredanya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi ini meredakan kekhawatiran inflasi dan membuat investor beralih ke aset lindung nilai, sambil menanti keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pekan ini.
Berdasarkan data perdagangan, emas spot naik 0,9 persen menjadi US$ 4.087,79 per ons troi pada pukul 04.21 GMT. Sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat menguat 0,5 persen ke level US$ 4.089,90 per ons troi.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan penguatan emas didorong oleh kombinasi pelemahan harga minyak dan nilai tukar dolar AS.
“Emas menjadi penerima manfaat yang jelas hari ini dari kombinasi pergerakan harga minyak dan dolar AS,” ujarnya.
Indeks dolar AS (DXY) turun sekitar 0,3 persen, membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan menghentikan serangan selama Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Sementara itu, AS menghentikan sementara kampanye pengeboman setelah muncul kekhawatiran menipisnya persediaan persenjataan. Perkembangan ini mendorong harga minyak turun lebih dari 4 persen dalam sehari.
Lonjakan harga minyak sejak awal tahun sempat memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, meredanya konflik membuat tekanan inflasi berkurang dan mendukung penguatan emas.
Investor kini menanti hasil rapat kebijakan moneter The Fed pada 28–29 Juli. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang masih diperhitungkan sekitar 76 persen.
Selain emas, harga perak naik 1,7 persen menjadi US$ 59,16 per ons. Platinum menguat 1,5 persen ke US$ 1.612,04 per ons, sementara palladium bertambah 1,6 persen ke level US$ 1.263,73 per ons.








