Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Bivitri Kritik Pernyataan Prabowo yang Merasa ‘Diserang’: Presiden Harus Dengar Kritik, Bukan Bertahan

Views
×

Bivitri Kritik Pernyataan Prabowo yang Merasa ‘Diserang’: Presiden Harus Dengar Kritik, Bukan Bertahan

Sebarkan artikel ini
Bivitri
Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti.

KOMA.ID, JAKARTA – Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku kerap diserang karena menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak semestinya dipahami sebagai serangan terhadap pribadi presiden.

Melalui akun media sosial X pribadinya, Bivitri menilai terdapat cara pandang yang keliru apabila kritik publik dipersepsikan sebagai persoalan personal.

Silakan gulirkan ke bawah

“‘Saya diserang.’ Ada cara berpikir yang secara fundamental salah: dia menganggap ini soal diri dia pribadi sehingga dia harus bertahan,” tulis Bivitri di akun X pribadinya @BivitriS, Selasa (21/7/2026).

Menurut Bivitri, dalam sistem demokrasi yang menjadi objek kritik adalah kebijakan dan lembaga kepresidenan, bukan sosok presiden sebagai individu.

Karena itu, dosen hukum di Sekolah Tinggi Hukum JENTERA ini pun menilai bahwa respons yang tepat bagi Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia bukanlah mempertahankan diri, melainkan membuka ruang evaluasi terhadap berbagai masukan dari masyarakat.

“Anda tidak diserang, tapi Anda sebagai Lembaga Kepresidenan dikritik. Jangan bertahan, Anda harus mendengar, mengevaluasi dengan terbuka dan memperbaiki,” lanjutnya.

Pernyataan Bivitri tersebut merupakan respons atas pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026), ketika Kepala Negara menyampaikan keluh kesahnya mengenai kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis.

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengaku sering menjadi sasaran kritik karena ingin menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak Indonesia, ibu hamil, dan kelompok lanjut usia.

“Saya diserang karena ingin memberi makan bergizi untuk anak-anak Indonesia, memberi makan untuk anak-anak Indonesia, untuk ibu-ibu hamil, untuk orang-orang lansia dianggap pemborosan. Tapi ribuan triliun yang menguap, yang pergi dari bumi Indonesia tiap tahun selama 34 tahun tidak ada komentar, tidak ada pakar yang protes, tidak ada investigasi,” kata Prabowo.

Presiden juga mempertanyakan kritik yang menyebut program MBG sebagai pemborosan, padahal menurutnya masih banyak anak Indonesia yang mengalami stunting dan berangkat ke sekolah tanpa memperoleh asupan makanan yang memadai.

“Kita mau beli makan kepada anak-anak yang jelas-jelas seperempat anak-anak kita stunting, sebagian besar juga tidak banyak yang tidak makan mau sekolah, kita dituduh pemborosan, kita dibilang ekonomi mau collapse, harga saham akan ambruk, mata uang akan melemah, alasannya karena boros,” ujar Prabowo.

Pidato tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari kalangan akademisi, pengamat, hingga masyarakat, termasuk kritik Bivitri yang menekankan pentingnya membedakan antara kritik terhadap kebijakan publik dan serangan terhadap pribadi presiden.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.