Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Istana Buka Suara soal Tiga Peserta SPPI Meninggal Saat Latsarmil KDKMP dan KNMP

Views
×

Istana Buka Suara soal Tiga Peserta SPPI Meninggal Saat Latsarmil KDKMP dan KNMP

Sebarkan artikel ini
Wamensesneg Juri Ardiantoro
Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro. (Foto / Istimewa)

Koma.id Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro buka suara terkait meninggalnya sejumlah peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang mengikuti kegiatan latihan dasar militer (latsarmil) dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pemerintah, kata Juri, telah menyiapkan langkah mitigasi dan evaluasi atas peristiwa tersebut.

“Dan tentu hal terkait dengan peristiwa atau kejadian-kejadian seperti itu, ya, akan ditangani sebaik-baiknya dan tentu dipisahkan dari kegiatan atau kelanjutan dari program ini,” ujar Juri di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Juri menegaskan setiap kejadian yang menimpa peserta akan ditangani sesuai prosedur yang berlaku. Namun demikian, ia memastikan insiden tersebut tidak akan menghentikan pelaksanaan program yang sedang dijalankan pemerintah.

Menurutnya, evaluasi akan dilakukan terhadap aspek-aspek yang diperlukan tanpa mengganggu keberlanjutan program strategis tersebut.

“Jadi program Koperasi Merah Putih tentu tetap lanjut,” kata Juri.

Pernyataan itu disampaikan menyusul meninggalnya setidaknya tiga peserta SPPI yang tengah mengikuti latihan dasar militer calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih di lokasi pendidikan yang berbeda.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) sebelumnya juga telah menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya para peserta tersebut.

Korban pertama adalah Anisa Muyassaroh, peserta yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Anisa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026.

Menurut Kemenhan, korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban dinyatakan meninggal dunia akibat terpapar cuaca panas berlebih atau heat stroke.

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6/2026).

Korban kedua adalah Yonanda Muhammad Taufiq, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan.

Yonanda mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 dan sempat mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Menurut Rico, hasil pemeriksaan medis menunjukkan Yonanda meninggal dunia akibat henti jantung (cardiac arrest).

“Yang bersangkutan telah memperoleh penanganan medis sesuai prosedur sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan, penyebab kematian adalah cardiac arrest,” ujar Rico.

Sementara itu, korban ketiga adalah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta Program SPPI Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2026 yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Novia meninggal dunia pada Selasa (23/6/2026) setelah sebelumnya mengalami penurunan kondisi kesehatan saat mengikuti rangkaian pendidikan.

“Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).

Rico menjelaskan bahwa pada 22 Juni 2026, Novia mengalami gangguan kesehatan dan segera mendapatkan penanganan dari tim kesehatan satuan. Setelah itu, korban dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk menjalani penanganan medis lanjutan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diduga memiliki riwayat atau menderita tuberkulosis (TB) yang kemudian memengaruhi kondisi kesehatannya selama mengikuti pendidikan.

Meninggalnya tiga peserta SPPI dalam waktu berdekatan memunculkan perhatian publik terhadap pelaksanaan latihan dasar militer bagi calon pengelola program Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Meski demikian, pemerintah memastikan program tetap berjalan sembari melakukan evaluasi dan langkah mitigasi guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.