Koma.id | Banten – Ketua Presidium JARI 98, Willy Prakarsa, menegaskan demonstrasi mahasiswa dan aksi sosial yang marak belakangan ini merupakan refleksi kegelisahan publik terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya, jalanan kembali menjadi ruang koreksi ketika saluran formal kehilangan daya dengar.
“Ketika ruang-ruang formal tak lagi mampu menampung aspirasi, maka jalanan menjadi medium rakyat untuk berbicara. Demonstrasi bukan sekadar ekspresi kemarahan, tapi tanda bahwa ada persoalan yang belum terselesaikan antara negara dan masyarakat,” ujar Willy di Banten, Jumat (12/06).
Ia menekankan bahwa gerakan sosial harus dipahami sebagai mekanisme koreksi terhadap kekuasaan, bukan ancaman terhadap stabilitas.
“Gerakan sosial adalah alarm demokrasi. Ia muncul ketika kebijakan pemerintah menjauh dari kepentingan rakyat,” tambahnya.
Willy juga menyoroti persoalan korupsi yang terus berulang di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis. Ia menyebut korupsi di sektor-sektor tersebut bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap masa depan bangsa.
“Ketika anggaran pendidikan atau kesehatan diselewengkan, yang dirampas bukan hanya uang negara, tapi hak anak-anak untuk tumbuh sehat dan berpendidikan. Ini bentuk pengkhianatan terhadap amanat konstitusi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Willy menegaskan komitmen JARI 98 untuk tetap menjadi penyeimbang demokrasi melalui aksi massa.
“Kami siap cabut dan cubit mandat kami sebagai parlemen jalanan buat penyeimbang demokrasi,” ujarnya.
Pernyataan ini dimaksudkan sebagai bentuk tekanan politik bahwa JARI 98 siap menarik dukungan moral sekaligus memberi koreksi keras terhadap pemerintah bila kebijakan dianggap menyimpang dari aspirasi rakyat.
Ia menilai negara masih terlalu reaktif dalam menangani masalah sosial. Bantuan sosial, menurutnya, sering dijadikan solusi instan tanpa menyentuh akar persoalan. “Negara jangan hanya jadi pemadam kebakaran. Kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan harus diselesaikan dari akarnya, bukan sekadar diberi kompensasi,” ujarnya.
Willy menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa gerakan sosial di jalanan tidak boleh dipandang sebagai gangguan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan realitas sosial. “Jalanan bukan sumber masalah. Jalanan adalah cermin yang menunjukkan masalah yang sesungguhnya,” katanya.








