Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Daerah

Pimpinan Ponpes Widodaren Ngawi Dilaporkan Cabuli Santri

Views
×

Pimpinan Ponpes Widodaren Ngawi Dilaporkan Cabuli Santri

Sebarkan artikel ini
Santri Lapor
Tiga santriwati melapor ke Polres Ngawi terkait dugaan pencabulan oleh pengasuh pondok pesantren di Widodaren. (Foto / Istimewa)

Koma.id Seorang pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial D di Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi dilaporkan ke Polres Ngawi. Pimpinan ponpes tersebut diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap sejumlah santriwatinya.

Kasat Reskrim Polres Ngawi, AKP Aris Gunadi, mengonfirmasi adanya laporan tersebut. Ia menyebutkan ada tiga santriwati yang datang melapor dengan didampingi oleh pihak luar.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kemarin hari Jumat, tiga santriwati didampingi Sekretaris Yakuza Ngawi mendatangi Satreskrim untuk pelaporan dugaan pencabulan oleh pengasuh ponpes di wilayah Kecamatan Widodaren,” ujar Aris saat dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).

Ketiga korban yang melapor diketahui berinisial G (asal Blora), serta P dan Z (asal Sragen). Saat ini, ketiga santriwati tersebut telah dibawa ke Rumah Sakit Widodo Ngawi untuk menjalani visum medis.

“Kita lakukan visum dan saat ini korban mendapatkan pendampingan dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA),” jelas Aris.

Sementara itu, Sekretaris Yakuza Ngawi, Dwi Kurniawan Ma’arif, mengungkapkan bahwa kasus ini mulai terkuak setelah adanya kasus serupa yang viral di Ponorogo. Hal itu mendorong pihak yang mengetahui kejadian untuk membuka suara.

“Ada seseorang yang mendatangi tempat kita terkait adanya santriwati yang diduga dicabuli oleh oknum pimpinan pondok pesantren. Akhirnya, ada tiga santriwati yang berani melaporkan kasus pencabulan itu ke kepolisian,” papar Dwi.

Dwi menduga jumlah santriwati yang menjadi korban aksi bejat pengasuh ponpes tersebut sebenarnya lebih banyak dari yang melapor saat ini.

“Diperkirakan jumlah santriwati yang menjadi korban pencabulan masih banyak. Namun, mereka belum mau melaporkan ke pihak kepolisian karena sebagian besar saat ini sudah berkeluarga,” pungkas Dwi.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.