Koma.id | Tasikmalaya – Setidaknya sebanyak 500 mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya terlibat dalam pertunjukan kolosal Festival Calung Renteng di Lapang Kampus 2 Unsil, Taman Sari, Kota Tasikmalaya, Sabtu (09/05). Kegiatan ini menjadi bagian dari Sawala Budaya yang menekankan peran generasi muda dalam menjaga dan melestarikan kesenian tradisional.
Ketua Pelaksana Festival, Riki M Hamzah, menyatakan pelibatan mahasiswa merupakan strategi baru agar calung renteng tidak semakin terpinggirkan di tengah arus modernisasi.
“Mayoritas pegiat calung renteng saat ini sudah berusia senja. Maka harus segera diwariskan kepada generasi muda lewat kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Festival Calung Renteng sebelumnya pernah digelar di Karang Resik pada 2018 dengan melibatkan lebih dari seribu pelajar dari 15 sekolah. Kini, Unsil mengambil peran dengan menghadirkan ratusan mahasiswa untuk memainkan alat musik bambu khas Tasikmalaya tersebut.
Calung renteng, yang mirip dengan angklung namun dimainkan dengan cara dipukul, terbuat dari bilah-bilah bambu wulung berjumlah 17 ruas. Alat musik ini menghasilkan nada salendro atau pelog dan secara tradisional dimainkan dalam kelompok pada upacara pertanian.
Pertunjukan kali ini dikemas dalam bentuk kolaborasi antara calung renteng, angklung, perkusi, dan alat musik modern. Selain memperkuat identitas budaya lokal, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkenalkan kembali kekayaan musik tradisional Nusantara kepada generasi muda.
Festival Calung Renteng Unsil 2026 menjadi momentum penting untuk menjembatani tradisi agraris dengan dunia akademik, sekaligus menegaskan komitmen mahasiswa dalam menjaga warisan budaya daerah.








