Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Waspada! Kenaikan BBM Diduga Bukan Sekadar Ekonomi, Ada Target Jatuhkan Prabowo

Views
×

Waspada! Kenaikan BBM Diduga Bukan Sekadar Ekonomi, Ada Target Jatuhkan Prabowo

Sebarkan artikel ini
Waspada! Kenaikan BBM Diduga Bukan Sekadar Ekonomi, Ada Target Jatuhkan Prabowo
Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di SICC, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). (Foto/BPMI Setpres)

Koma.id, Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, dorongan kebijakan tersebut dinilai tidak semata dilandasi pertimbangan ekonomi, tetapi juga berpotensi disusupi kepentingan politik tertentu.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai bahwa isu kenaikan BBM saat ini memiliki dimensi yang lebih kompleks. Di satu sisi, secara ekonomi kebijakan tersebut dapat dipahami karena adanya tekanan dari kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya beban subsidi dalam anggaran negara.

Silakan gulirkan ke bawah

Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat memicu gejolak sosial jika tidak dikelola dengan tepat.

“Secara ekonomi memang terlihat rasional, tetapi dalam konteks sosial-politik, kenaikan BBM bisa menjadi pemantik ketidakstabilan,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Menurut Amir, narasi yang berkembang di ruang publik saat ini lebih banyak menekankan pada urgensi fiskal. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga kesehatan anggaran negara atau mempertahankan daya beli masyarakat.

Ia juga menyoroti kondisi psikologis masyarakat yang dinilai belum sepenuhnya stabil. Sentimen negatif terhadap pemerintah, khususnya kepada Presiden Prabowo, masih ditemukan di sejumlah kelompok masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, kebijakan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, seperti BBM, menjadi sangat sensitif. Kesalahan dalam menentukan waktu atau komunikasi kebijakan berisiko memicu gelombang protes.

Lebih jauh, Amir mengungkap adanya indikasi pergerakan kelompok anti-pemerintah yang mulai terorganisir. Ia menyebut kampus sebagai salah satu target strategis untuk membangun basis gerakan.

“Sejumlah kelompok mulai mengarah ke kampus-kampus. Ini pola klasik dalam dinamika politik di Indonesia,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah diharapkan tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi dalam mengambil keputusan terkait BBM, tetapi juga memperhitungkan dampak sosial dan potensi dinamika politik yang dapat muncul.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.