Koma.id, Jakarta — Wacana penerapan kebijakan work from home (WFH) minimal satu hari dalam sepekan mulai mengemuka di lingkungan pemerintah. Usulan ini dinilai sebagai salah satu langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, termasuk dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa penerapan WFH dapat memberikan dampak langsung terhadap penghematan energi, khususnya penggunaan BBM di sektor transportasi harian.
“Dengan WFH, mobilitas masyarakat berkurang, sehingga konsumsi BBM juga bisa ditekan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut masih dalam tahap perumusan dan akan segera diumumkan secara resmi kepada publik.
Ia menjelaskan, arahan tersebut berasal langsung dari Presiden sebagai bagian dari upaya mendorong efisiensi kerja di lingkungan pemerintahan.
“Sebagaimana disampaikan Bapak Presiden dalam sidang kabinet paripurna, kita sedang merumuskan kebijakan agar kita semua mulai lebih efisien dalam bekerja,” kata Prasetyo.
Salah satu opsi yang kini tengah dikaji adalah penerapan WFH setidaknya satu hari dalam seminggu. Skema ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban transportasi, tetapi juga menjadi langkah adaptif terhadap pola kerja modern yang lebih fleksibel.
Meski demikian, pemerintah masih mempertimbangkan berbagai aspek sebelum kebijakan ini diterapkan secara luas, termasuk kesiapan infrastruktur, efektivitas kerja, serta dampaknya terhadap pelayanan publik.
Jika terealisasi, kebijakan WFH mingguan ini berpotensi menjadi perubahan signifikan dalam budaya kerja aparatur negara sekaligus bagian dari strategi efisiensi nasional di tengah tantangan ekonomi dan energi.







