Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Kunci Media Bertahan di Era AI

Views
×

Kunci Media Bertahan di Era AI

Sebarkan artikel ini
Kunci Media Bertahan di Era AI
Chief Executive Officer (CEO) Tempo Digital dan Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika. (Foto / Dok. Koma.id)

Koma.id – Chief Executive Officer (CEO) Tempo Digital sekaligus Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika, membeberkan alasan mengapa Tempo memilih fokus mengembangkan jurnalisme berbasis Ai melalui pengelolaan arsip dan aset digitalnya.

Menurutnya, ini bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan strategi bertahan hidup media di era kecerdasan artifisial.

Silakan gulirkan ke bawah

Wahyu menyebut, ada dua prinsip utama agar media bisa tetap sustainable di tengah gempuran AI.

Pertama, mengenali audiens secara langsung (first party data). Selama ini, banyak media hanya tahu jumlah pembaca bukan siapa mereka. Data audiens justru dikuasai platform seperti Google, Meta, TikTok, hingga X.

Akibatnya, media kehilangan hubungan langsung dengan pembacanya sendiri.

“Kita hanya tahu pageview, tahu jumlah klik. Tapi siapa satu juta orang itu? Kita tidak tahu. Yang tahu justru platform,” ujarnya, hari ini.

Di era AI, kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Media harus kembali memiliki kontrol atas data audiensnya.

Kedua, memahami diferensiasi konten.

Media tidak bisa lagi sekadar mengejar kecepatan atau trending topic. Di masa lalu, yang tercepat dan paling sensasional sering menang. Clickbait jadi strategi umum.

“Tapi sekarang AI dan algoritma platform lebih menghargai otoritas, autentisitas, dan originalitas,” kata Wahyu.

Artinya, media harus tahu: konten apa yang unik? Perspektif apa yang tidak dimiliki media lain? Masalah pembaca mana yang ingin diselesaikan?

Mengubah Arsip Jadi Mesin Pengetahuan

Dalam konteks itulah Tempo mengembangkan Digital Asset Management (DAM) berbasis arsip yang telah dikumpulkan sejak 1971.

Wahyu menilai, puluhan tahun produksi jurnalistik Tempo adalah kekayaan pengetahuan. Namun selama tersimpan di server dan arsip, nilainya belum maksimal.

Dengan dukungan pendanaan dan mentoring dalam pengembangan produk AI, Tempo ingin mengubah arsip itu menjadi alat yang bisa digunakan pembaca untuk memahami konteks besar suatu isu.

“Bayangkan pembaca ingin tahu sikap Indonesia terhadap Palestina sejak 1970-an. Dengan tools ini, dia bisa melacak setiap era, setiap presiden, setiap perubahan kebijakan,” jelasnya.

AI bukan menggantikan redaksi, tetapi memberi kendali lebih besar kepada pembaca untuk mengeksplorasi konteks secara mendalam.

AI Bukan Musuh, Tapi Jalan Pulang Jurnalisme

Wahyu menegaskan, AI selama ini banyak dipakai untuk produksi otomatis misalnya mengubah data bursa menjadi berita instan. Namun potensi AI jauh lebih besar dari itu.

Menurutnya, AI adalah kelanjutan logis dari era big data. Masalahnya, selama ini mesin AI “minum dari semua sumber”, termasuk data yang tidak terverifikasi. Akibatnya muncul halusinasi dan informasi keliru.

Di sinilah media berperan sebagai gatekeeper.

Arsip media yang terverifikasi, terkonfirmasi, dan melewati standar jurnalistik menjadi sumber data berkualitas bagi AI. Dengan begitu, output AI lebih akurat dan kontekstual.

“Justru di era AI ini, fungsi wartawan di hulu makin penting. Karena hanya jurnalis yang punya metode verifikasi,” tegasnya.

Menggeser Orientasi: Dari Klik ke Kualitas

Wahyu juga mengkritik praktik media beberapa tahun terakhir yang terlalu mengejar traffic dan sensasi.

Isu-isu penting seperti pembahasan undang-undang, proses legislasi di DPR, atau alasan hakim menjatuhkan vonis sering kalah oleh drama selebritas dan skandal yang lebih menarik secara emosional.

Di era AI, menurutnya, traffic bukan lagi segalanya. Informasi berkualitas bisa diproses ulang, dikemas ulang, dan disajikan sesuai kebutuhan spesifik pengguna.

Misalnya, investor asing ingin melihat konsistensi penegakan hukum korupsi di Indonesia. AI bisa mengolah arsip media untuk menyajikan tren dan analisis berbasis data historis.

“Ini kesempatan untuk meluruskan kembali jurnalisme ke fitrahnya: memproduksi informasi yang penting, bukan sekadar yang menarik,” katanya.

Regulasi dan Masa Depan Ekosistem Informasi

Terkait regulasi, Wahyu menjelaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital baru merilis roadmap pengembangan AI. Namun aspek keberlanjutan media dan perlindungan karya jurnalistik masih dalam tahap diskusi.

Bersama konstituen di Dewan Pers termasuk AMSI, AJI, PFI, dan organisasi pers lainnya media tengah mendorong tata kelola AI yang menjamin: Integritas informasi, Pencegahan hoaks dan deepfake, Perlindungan hak cipta, Skema kompensasi bagi media.

Menurut Wahyu, masa depan jurnalisme sangat ditentukan oleh keputusan hari ini.

Jika AI memberi kompensasi yang adil dan media mampu bernegosiasi setara, maka AI bisa menjadi “jalan pulang” bagi jurnalisme.

Namun jika tidak diatur dengan baik, skenario pesimistis bisa terjadi: media dan wartawan terpinggirkan.

“Ini era krusial. Optimis atau pesimisnya masa depan media tergantung apa yang kita lakukan hari ini,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.